Kisah Muhammad Haris dan Ambulance Penyelamat

 

MAINews, Jakarta – Pagi tanggal 4 April 2018 merupakan hari yang menyedihkan bagi Ibu Hanny Hanisyah. Pasalnya, ia harus kehilangan salah satu anak asuhnya. Muhammad Haris (18) diketahui memiliki kelainan pada jantungnya itu mengalami sesak napas. Wanita itu segera membawa Haris ke rumah sakit terdekat. Namun dikarenakan penyakit Haris begitu berat, Ibu Hanny hendak membawa Haris ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Tentunya, untuk sampai ke RSCM itu membutuhkan ambulance. Dokter di rumah sakit itu merekomendasikan ambulance dengan harga yang begitu mahal, yakni Rp. 5 juta. Ibu Hanny tidak mampu membayarnya. Di tengah kebingungan, ia berdoa agar Allah memberikan petunjuk.

Ia lantas teringat dengan Miftahul Khoir, penanggungjawab Rumah Sehat Mandiri, yang selalu membantunya saat anggota Komunitas Kelainan Jantung Bawaan (KKJB) membutuhkan rumah singgah sementara untuk berobat di Jakarta. Sebelumnya, Haris dan ayahnya pernah menjadi salah satu penghuni rumah singgah tersebut sambil berobat dan menunggu keputusan tanggal operasi.

Lega menjalar di hati wanita itu. Miftahul Khoir segera menyampaikan ha tersebut kepada petugas ambulance. Tak lama, Pak Juharyono, petugas ambulance dari Mandiri Amal Insani (MAI) Foundation tiba. Dokter yang merekomendasikan ambulance mahal itu tercengang. Mobil ambulance MAI begitu bagus dan lengkap dengan peralatan medis standar internasional.

Sebelum berangkat, Ibu Hanny pun sempat memberikan kartu nama kepada dokter sambil berkata, “Dok, andai ada orang yang kurang mampu seperti kami butuh ambulance dan bantuan bagi anak-anak kelainan jantung bawaan, hubungi nomor ini, ya!”

Mereka segera berangkat menuju RSCM. Perjalanan terasa panjang. Jakarta yang syarat akan kemacetan membuat ambulance tak bisa melaju cepat. Haris di pembaringan masih menahan sakitnya. Ibu Hanny tak henti berdoa untuk kesembuhan. Dan lagi-lagi Allah memberikan kemudahan. Sebuah motor, yang diketahui Ibu Hanny adalah ojek online itu membantu ambulance membuka jalan sampai menuju pintu tol. Tibalah mereka di RSCM. Sementara ambulance pergi, Ibu Hanny membawa Haris untuk segera ditangani.

Di UGD, prosedur dan tindakan dirasa terlalu lambat. Akibatnya, Muhammad Haris sudah tidak sanggup bertahan. Tepatnya pukul 23.04, Haris menghembuskan napasnya yang terakhir, meninggal dengan sejuta kenangan untuk mendapatkan jantungnya yang lengkap.

Kembali bingung melanda. Antara sedih dan bimbang karena waktu sudah larut, Ibu Hanny kembali menghubungi Pak Juharyono. Di tengah malam, saat orang terlelap dalam nyenyaknya tidur, Pak Juharyono siap menjemput di RSCM. Dini hari, mereka pun kembali pulang dengan mobil ambulance yang sama. Bedanya, Muhammad Haris sudah terbujur kaku di keranda jenazah.

“Saya atas nama pribadi dan KKJB mengucapkan ribuan terima kasih kepada Mas Khoir sebagai jembatan kami yang selalu menolong KKJB, Pak Ju yang berhati mulia, kepada MAI yang telah meringankan beban kami, juga donatur setia MAI. Hanya Allah yang akan membalas kebaikan,” tulisnya di status facebook Hanny Hanisyah.

RELATED ARTIKEL