Bagaimana Mengatur Keuangan Keluarga dalam Islam?

                              Sumber: http://churchofcelebration.com

Hidup berkeluarga berarti terpenuhinya separuh agama seseorang. Sebelum kejenjang pernikahan, penting untuk memiliki pekerjaan atau sumber keuangan lainnya menuju kemapanan finansial dalam Islam. Oleh karena itu, suami istri harus memahami konsep-konsep keuangan keluarga dan tipe pengelolaan keuangan dari kedua belah pihak.

Saat hidup berumah tangga, pola pikir harus semakin dewasa. Menyusun perencanaan harus memiliki perspektif jangka panjang. Hal ini karena setiap keputusan dalam pengeluaran akan mempengaruhi kebutuhan yang lain. Jika dominan membeli barang yang tidak kita butuhkan saat ini maka sama saja dengan membuang uang. Perilaku ini akan sangat berbahaya ketika tiba-tiba mendapatkan musibah dan tidak memiliki cukup uang untuk menutupinya, secara terpaksa kita harus berhutang atau menjual aset kita. Saat itulah perencanaan keuangan kita diuji dengan berbagai situasi.

Fase kehidupan berumah tangga juga harus diperhatikan. Biaya sandang, pangan, dan papan menjadi prioritas saat itu. Setelah memiliki anak, keuangan rumah tangga akan tersedot untuk membiayai pendidikan sang buah hati. Saat ditengah puncak karir, kita tidak boleh lupa berinvestasi untuk masa depan. Hal ini karena resiko kehidupan seorang yang lanjut usia semakin besar. Semakin tua seorang manusia, dia akan semakin rentan terhadap penyakit. “Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali utangnya” (HR. Muslim)

Hutang seringkali membuat keuangan tidak sehat. Hutang secara umum dibagi menjadi dua yaitu hutang produktif dan hutang konsumtif. Berhutang untuk konsumtif boleh dilakukan selama masih dalam hal wajar, selebihnya sama saja dengan pemenuhan atas hawa nafsu bukan kebutuhan. Sedangkan hutang produktif adalah hutang yang bisa mendatangkan pendapatan. Contoh hutang konsumtif adalah saat seorang anak kecil yang membeli smartphone hanya untuk game. Tentu berbeda jika membeli smartphone yang digunakan untuk hal produktif.

Konsep simpanan, sedekah, asuransi, dan investasi bukanlah konsep menyisakan, tetapi menyiapkan sejak awal saat menerima pendapatan. Menyiapkan lebih terencana daripada menyisakan. Simpanan perlu disiapkan karena akan berguna ketika menghadapi musibah dan kebutuhan mendadak. Meski demikian, asuransi merupakan instrumen yang efektif dalam menghadapi musibah dan persoalan keuangan. Hal ini karena beberapa investasi, jual-beli, dan aktivitas keuangan lainnya membutuhkan asuransi sebagai jaminan atas keselamatan. Sedangkan sedekah dan investasi merupakan aktivitas ekonomi yang berorientasi jangka panjang.

Sedekah merupakan instrumen yang istimewa. Dia memiliki fungsi sebagai investasi maupun fungsi asuransi. Rasulaullah bersabda, “Bersegeralah kalian untuk mengeluarkan sedekah, karena sungguh bencana tak dapat melewati sedekah“ (HR Thabrani). Hadits itu semakin menguatkan bahwa sedekah mampu menghindarkan dari bala. Fungsi investasi dari sedekah adalah menjadi tabungan untuk akhirat sesuai hadits dari Rasulullah, “Sungguh, sedekah dapat memadamkan panasnya kubur orang yang bersedekah, dan sungguh orang mukmin akan bernaung pada hari kiamat dengan payungan sedekahnya“ (HR Thabrani)

Investasi juga penting dalam menghadapi masa tua dan kenaikan harga. Setiap tahun Upah Minimum Regional (UMR) selalu naik. Begitupun dengan harga-harga kebutuhan. Selain itu, kebutuhan tidak terduga juga akan terjadi. Hal inilah yang menjadi alasan utama untuk berinvestasi. Setelah keuangan sehat, pemenuhan kebutuhan dasar, cicilan utang yang tepat, dan tabungan yang cukup seseorang baru dinyatakan mampu berinvestasi dengan baik. Oleh karena itu kita juga harus realistis dalam menetapkan tujuan sehingga mampu mengelola keuangan dengan baik. (itm/hal).

Form Konsultasi

RELATED ARTIKEL