Apa Kata Peserta Workshop Pemberdayaan Purna Pekerja Migran Jawa Timur?

 

 pemberdayaan purna tki

MAINews, Jakarta- Tepatnya Sabtu, (7/10/2017), Mandiri Amal Insani (MAI) Foundation yang bekerjasama dengan Union Migran Indonesia (UNIMIG) mengadakan Sarasehan dan Silaturahmi UNIMIG, MAI Foundation dan Purna Pekerja Migran Indonesia Jawa Timur. Acara yang bertempat di Restaurant Sate Lego, Jl Ahmad Dahlan 53, Timur Pasar Songgolangit, Ponorogo, Jawa Timur ini menghadirkan narasumber seperti Abdul Ghofur (General Manager MAI Foundation), Fathurrahman (UNIMIG) dan Ribut Riyano (Success Story TKI Purna).

Selang beberapa waktu setelah diunggahnya poster acara di media sosial, banyak Pekerja Migran Indonesia (PMI) Purna yang segera mendaftar. Namun karena kuota terbatas, jadilah sebanyak 60 orang yang berhasil menjadi peserta acara. 50 orang diantaranya adalah purna TKI dari asal negara penempatan seperti Malaysia, Korea, Taiwan, Hong Kong, Afrika, Jepang dan Arab Saudi.

Banyak manfaat yang dirasakan dari acara tersebut. Seperti hal yang dirasakan oleh Sulistyoningsih (37 tahun) asal Ponorogo. Wanita yang pernah bekerja di Singapura 2 tahun dan di Hong Kong 2 tahun itu memutuskan pengembaraannya di tahun 2008. Bersama suaminya, kini mereka membuka jasa servis berbagai macam elektronik terutama televisi. Ia pun membuka usaha kebun jeruk dan peternakan kambing. Meski belum besar, namun kegigihan pasangan itu membuat Sulis tidak berkeinginan lagi pergi merantau. Bagi Sulis, acara semacam itu perlu diadakan. Pasalnya, selain untuk menambah wawasan tentang bisnis, acara bisa menambah jejaring dan mitra dalam mengembangkan usahanya.

“Harapan saya sih, agar MAI Foundation mengadakan pelatihan dan pendampingan usaha buat anggota supaya mereka yang sudah purna dan TKI yang masih di Negara penempatan tidak lagi bingung ketika pulang ke Indonesia,” ketik Sulis via WhatApps, Rabu, (11/10/2017).

Sama dengan Tri Wahyuni (34 tahun) asal Ponorogo. Wanita yang pernah bekerja di Hong Kong selama 7 tahun itu kini membuka usaha isi ulang air mineral, toko kelontong, pengeringan kunyit dan sedang merintis usaha gatot instan.

Bagi Tri, acara ini seperti reuni baginya. Ia bisa bertemu dengan mantan TKI se-Jawa Timur bahkan sebagian sudah dikenal. Dari acara, selain mereka sharing tentang usaha, wadah seperti ini bisa memunculkan peluang-peluang dan ide baru untuk pemberdayaan Purna TKI.

“Kebetulan saya dari salah satu komunitas PMI Purna yaitu KAMI (Keluarga Migran) Ponorogo. Jadi bisa merasakan banget kalau acara ini sangat bermanfaat bagi kawan-kawan TKI. Inilah partner dan kawan buat kita dan para TKI lainnya untuk maju bersama,” ungkap Tri.

Tak ketinggalan, Tri berharap agar MAI Foundation bisa menjadi bapak asuh untuk para Purna TKI.

Masih dengan cerita yang sama, Retno Wulan Sari (37 tahun) pun merasakan manfaat besar dari acara tersebut. Wanita yang pernah bekerja di Hong Kong selama 15 tahun itu serasa dilecut semangatnya dan semakin mantap untuk tidak kembali ke luar negeri. Wanita kelahiran Ponorogo itu kini membuka jualan herbal, mukena, jilbab dan sesekali terima jasa pijit.

“Semoga nanti diadakan workshop mengenai herbal, plus dipandu dan ditambahi ilmu-ilmu mengenai keherbalan. Adakan pula kerja sama dengan para pengusaha herbal,” harap Retno.

Baik Sulistyoningsih, Tri Wahyuni, maupun Retno Wulan Sari berpesan kepada TKI yang masih berada di Negara penempatan agar segera membuat planning masa depan. Manfaatkan waktu dengan mengikuti acara-acara bermanfaat yang bisa menjadi bekal ketika kembali ke Tanah Air. Menabung dan jangan tergiur investasi bodong. Hindari budaya konsumtif yang akan menguras tabungan. Ingat selalu tujuan awal ketika datang ke luar negeri dan yang penting dan utama adalah tetap ingat dan menjalankan semua perintah Allah subhanahu wata’ala. (MAIFoundation/Riana)

 

 

 

 

RELATED ARTIKEL