Tafsir Surah Yasin Ayat 22-24

Tafsir Surah Yasin

Ayat 22-24

وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (22) أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آَلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنْقِذُونِ (23) إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (24)

“Mengapa aku tidak menyembah (Rabb) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Yasin: 22-24)

 

Penjelasan Ayat

Ibnu Katsir menyatakan bahwa siapa yang menghalangi dalam mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah yang telah menciptakan kita dan tidak pantas bagi Allah memiliki sekutu dalam beribadah. Kepada Allah-lah kita kembali. Allah akan membalas, jika amalan seseorang itu baik, maka akan dibalas juga dengan kebaikan. Jika sebaliknya amalannya jelek, maka akan dibalas juga dengan kejelekan.

Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan pula bahwa kata tanya yang ada adalah sebagai tanda pengingkaran dan ingin menyatakan bahwa yang dilakukan adalah suatu yang keliru. Ayat tersebut menunjukkan pula bahwa ilah (sesembahan) yang disembah selain Allah (berhala dan lainnya) tidak berkuasa memiliki segala sesuatu. Jika Allah menimpakan suatu musibah, maka tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali Allah. Sesembahan selain Allah tidak dapat menolak dan tidak dapat mencegah. Jadinya, orang yang menjadikan selain Allah sebagai sesembahan (berbuat syirik) berada dalam kesesatan yang nyata. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:335.

 

Perbedaan Syirik Zaman Now Dibanding Zaman Dulu

Orang musyrik pada masa silam melakukan kesyirikan pada saat lapang saja, sedangkan pada saat susah mereka beribadah hanya kepada Allah. Adapun orang musyrik pada zaman ini syiriknya pada saat susah maupun saat lapang.

Orang musyrik pada masa silam beribadah kepada orang-orang shalih dari golongan para malaikat, para nabi, dan para wali. Saat ini, orang-orang musyrik malah beribadah kepada orang-orang yang paling fajir (gemar bermaksiat) padahal mereka mengetahui hal itu. (Disebut oleh Syaikh Muhammad Abdul Wahhab di dalam kitab Kasyfu Syubuhat)

Orang musyrik pada masa silam meyakini bahwa mereka menyelisihi dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun orang musyrik pada zaman ini malah merasa berada di atas jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Orang musyrik pada masa silam menjadikan sesembahan mereka sebagai perantara yang mendekatkan diri mereka kepada Allah dan sebagai pemberi syafaat. Adapun orang musyrik pada masa kini malah menjadikan sesembahan mereka itu sebagai pihak yang dimintai secara langsung (mereka menganggap sesembahan itu mampu mengabulkan doa).

Orang musyrik pada masa kini menganggap bahwa ibadah kepada orang shalih termasuk bentuk menunaikan hak orang shalih tersebut, dan tidak beribadah kepada orang shalih termasuk bentuk menghinakan mereka. Hal ini tidak ditemukan pada orang musyrik sebelumnya.

Syirik yang terjadi pada masa silam adalah syirik pada uluhiyyah; sedangkan syirik yang terjadi pada masa kini adalah syirik dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan asma’ wa shifat.

Orang musyrik pada masa silam tidaklah meyakini ada yang menguasai dan mengatur jagad raya selain Allah. Adapun orang musyrik pada saat ini meyakini bahwa selain Allah ada yang berkuasa dan mengatur sebagian tempat.

Orang musyrik pada dahulu masih mengagungkan syariat Allah, contoh: mereka mau bersumpah dengan nama Allah. Adapun orang musyrik pada masa kini tidak mengagungkan Allah dan syariat-Nya sama sekali.

Orang musyrik pada masa silam mengharap kepada sesembahan mereka agar urusan dunia mereka ditunaikan. Adapun orang musyrik pada masa kini bukan meminta untuk urusan dunia saja, namun juga untuk urusan akhirat.

Baca: Tafsir Surat Yasin Ayat 18-19 Tentang Nasib Sial

RELATED ARTIKEL