Ibu, Amarah dan Doa yang Terkabul

doa ibu

Ibu, Amarah dan Doa yang Terkabul

Saat itu saya sedang membersihkan rumah. Anak saya yang masih kecil itu tiba-tiba berlari dan menyenggol satu pot bunga yang terbuat dari kaca. Pot itu hancur berantakan. Perbuatannya itu sontak membuat saya geram. Saya marah karena pot kaca itu harganya sangat mahal.

“Anak kurang ajar! Matilah kamu! Semoga kamu ditimpa dinding  bangunan dan tulang belulangmu hancur!” rutuk saya.

Tahun demi tahun berlalu. Anak saya dan adiknya itu tumbuh besar. Bahkan, anak sulung saya inilah yang paling saya sayangi. Si Sulung tumbuh menjadi anak yang rajin, menghormati kedua orang tuanya dan yang paling bisa dibanggakan di keluarga. Ia tumbuh menjadi sosok kakak yang sangat bertanggung jawab terhadap adik-adiknya.

Kini, dia telah menjadi seorang insinyur. Tak lama lagi bahkan akan segera menikah. Rasanya tak sabar ingin segera menimang cucu dari anak kesayangan.

Karena seorang insinyur, ayahnya yang punya sebuah bangunan tua ingin direnovasi. Maka, pergilah anakku bersama ayahnya ke bangunan itu. Para pekerja sudah bersiap-siap untuk merobohkan satu dinding yang sudah usang. Ketika bangunan itu roboh, tiba-tiba terdengar suara jeritan dari seseorang.

Semua pekerja berhenti seketika. Mencari asal sumber suara. Mereka berlari ke arah reruntuhan itu. Ternyata anak saya terhimpit dinding. Rupanya, sementara pekerja sedang berusaha merobohkan dinding, anak saya itu pergi ke belakang tanpa diketahui siapa pun!

Begitu dinding diangkat, badan anak saya remuk. Ambulance datang. Petugas berusaha mengangkat badan anak saya dengan hati-hati dan segera membawanya ke UGD.

Saat ayahnya menghubungi saya, seakan-akan Allah menghadirkan kembali kata-kata yang dulu pernah terucap. Kata-kata ketika anak saya masih kecil. Kata-kata yang saya lontarkan ketika sedang marah. Saya menangis hingga pingsan. Setelah sadar, saya berada di rumah sakit di mana anak kesayangan saya dirawat. Saya bangun untuk melihat keadaannya.

Airmata kembali menetes. Dada kian sesak. Dinding rumah sakit menyerukan suara-suara sesal.

“Ini doamu, kan? Sudah Aku kabulkan! Setelah sekian lama engkau berdoa, sekarang aku akan mengambilnya!”

Jantung seakan berhenti berdetak manakala anak saya menghembuskan napas terakhirnya. Saya berteriak sambil menangis. Namun, lidah tak bertulang yang telah mengeluarkan kata-kata jelek tak bisa ditarik kembali. Kata ‘andaikan’ juga tak mampu mengembalikan anak saya.

 

  • Kisah nyata ini didapat dari sebuah grup WhatsApp. Saya pikir harus di-share kembali untuk para orang tua pagar tidak terjadi penyesalan yang tidak diinginkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

RELATED ARTIKEL