Tentang Keadilan Allah, Nikmat di Balik Ujian, dan Perjalanan Menuju Keabadian
QodratSQ
Jika hari ini takdirmu terasa terlalu berat, pasti bukan karena Allah salah menakar. Mungkin karena kita sedang menilai seluruh perjalanan hanya dari satu bagian yang sedang terasa menyakitkan.
Kita sering melihat takdir dari apa yang hilang, bukan dari apa yang masih Allah sisakan. Kita menghitung doa yang belum terkabul, tetapi lupa menghitung begitu banyak pemberian yang bahkan tidak pernah kita minta. Padahal, Tuhan jauh lebih banyak memberi apa yang tidak kita minta dibandingkan apa yang kita minta.
Kita tidak pernah meminta jantung untuk terus berdetak, paru-paru untuk tetap bekerja ketika kita tidur, mata untuk tetap melihat, atau pagi untuk kembali datang. Semuanya diberikan. Bahkan jauh sebelum kita mengenal cara meminta, Allah sudah lebih dahulu memberi. Allah mengingatkan, “Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. An-Nahl: 18).
Sebenarnya bukan nikmat kita yang terlalu sedikit.
Kitalah yang terlalu teliti menghitung derita, tetapi terlalu longgar menghitung karunia.
Maka ketika satu ujian datang, jangan buru-buru menganggap hidup sedang tidak adil. Satu kesulitan tidak menghapus ribuan nikmat yang masih menyertainya. Satu takdir yang menyakitkan juga tidak berarti Allah sedang membenci kita. Sebab Tuhan yang menetapkan takdir adalah Tuhan Yang Maha Adil. Allah berfirman, “Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun.” (QS. Al-Kahfi: 49).
Apa yang belum kita pahami hari ini boleh jadi menyimpan hikmah yang baru dapat kita mengerti setelah perjalanan panjang. Kita melihat satu kejadian, Allah mengetahui seluruh perjalanan. Kita membaca satu halaman, Allah mengetahui seluruh cerita.
Setiap manusia memiliki garis kehidupannya sendiri. Ada yang diuji dengan kekurangan, ada yang diuji dengan kelimpahan. Ada yang diuji ketika kehilangan, ada pula yang diuji ketika memiliki. Allah berfirman, “Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.” (QS. Al-Anbiya: 35).
Karena itu, keadilan Allah tidak berarti setiap manusia harus memperoleh takdir yang sama. Allah menakar kehidupan setiap hamba dengan ilmu dan hikmah-Nya. “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al-Qamar: 49).
Kita sering membandingkan kehidupan karena hanya melihat apa yang dimiliki orang lain, tetapi tidak mengetahui ujian yang menyertainya. Kita menginginkan bagian hidup seseorang tanpa mengetahui keseluruhan cerita yang harus ia jalani. Takdir bukan perlombaan tentang siapa yang mendapatkan kehidupan paling mudah. Takdir adalah perjalanan tentang bagaimana kita menjalani bagian yang Allah amanahkan kepada kita.
Dan dalam perjalanan itu, ujian tidak selalu datang sendirian. Allah berfirman, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5). Bukan hanya setelah kesulitan, tetapi bersama kesulitan.
Ketika satu pintu tertutup, mungkin masih ada pintu lain yang terbuka. Ketika tubuh sakit, masih ada keluarga yang merawat. Ketika harta berkurang, boleh jadi iman justru bertambah. Bahkan sesuatu yang hari ini kita sebut musibah, bertahun-tahun kemudian mungkin kita kenang sebagai titik yang mengubah arah kehidupan.
Ada kegagalan yang ternyata menyelamatkan. Ada kehilangan yang mendewasakan. Ada kesempitan yang mengembalikan kita kepada Allah.
Itulah keterbatasan manusia. Kita menilai takdir dari apa yang terasa hari ini, sementara Allah mengetahui akibatnya hingga jauh ke depan. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu… Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).
Takdir kita pun tidak berdiri sendiri. Garis kehidupan setiap manusia saling bersinggungan. Pengorbanan orang tua menjadi bagian dari perjalanan anaknya. Kesabaran seorang guru menjadi jalan bagi keberhasilan muridnya. Pengalaman pahit seseorang dapat menjadi pelajaran yang menyelamatkan orang lain. Bahkan seseorang yang hanya hadir sebentar dalam kehidupan kita bisa meninggalkan pengaruh yang mengubah perjalanan kita selamanya.
Kita hanya melihat garis kehidupan kita sendiri. Allah melihat seluruh bingkainya.
Namun ada satu hal yang tidak boleh hilang ketika memahami takdir: dunia bukan akhir cerita. Kita sering menginginkan dunia tanpa penyakit, kehilangan, kegagalan, kesedihan, dan perpisahan. Padahal dunia memang tidak diciptakan menjadi surga. Allah telah mengingatkan, “Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran: 185).
Karena itu, bukan hanya derita dunia yang sementara. Nikmatnya pun sementara. Kaya akan berakhir, miskin akan berakhir. Sehat akan berakhir, sakit pun akan berakhir. Pertemuan akan berakhir, perpisahan juga akan berakhir.
Yang abadi bukan di sini. Yang abadi ada di akhirat.
Maka jangan menilai keadilan Allah hanya dari kehidupan dunia yang singkat. Ada akhirat tempat seluruh perjalanan memperoleh maknanya secara utuh. Ada perhitungan yang sempurna, tidak ada satu kebaikan pun yang disia-siakan, dan tidak seorang pun akan dizalimi. Dan ada surga yang Allah sediakan sebagai kenikmatan tanpa akhir bagi hamba-hamba yang memperoleh rahmat dan ridha-Nya.
Rasulullah ﷺ menggambarkan seseorang yang paling sengsara kehidupannya di dunia dari kalangan penghuni surga ..setelah dicelupkan sekali ke dalam surga, ia mengatakan seakan tidak pernah merasakan kesengsaraan (HR. Muslim). Bukan karena penderitaannya dahulu tidak nyata, tetapi karena yang sementara akhirnya berhadapan dengan yang abadi.
Maka jika hari ini kita sedang diuji, tidak mengapa menangis. Tidak mengapa merasa lelah. Iman tidak menuntut manusia kehilangan perasaannya. Tetapi jangan biarkan satu luka membuat kita lupa kepada ribuan nikmat. Jangan biarkan satu doa yang belum terkabul membuat kita lupa kepada begitu banyak pemberian yang tidak pernah kita minta. Dan jangan menilai Allah dari satu bagian perjalanan yang belum selesai.
Kita tidak mengetahui hari esok, Allah mengetahuinya. Kita tidak selalu mengetahui apa yang terbaik bagi kita, Allah mengetahuinya.
Karena itu, mungkin pertanyaan terbaik ketika menghadapi takdir bukan hanya, “Mengapa ini terjadi kepadaku?” tetapi juga, “Apa yang Allah kehendaki dariku melalui keadaan ini?” Ada takdir yang harus disyukuri, ada yang harus disabari, ada yang harus diperjuangkan, ada yang harus diperbaiki, dan ada pula yang akhirnya harus diterima dengan tawakal.
Jangan menilai keadilan Allah dari satu titik kehidupan,
sementara Allah mengetahui keseluruhan garis perjalanan.
Dunia ini fana. Nikmatnya sementara, deritanya pun sementara. Yang terpenting bukan apakah perjalanan kita selalu mudah, tetapi ke mana perjalanan itu akhirnya membawa kita.
Sebab Tuhan sudah menakar takdir. Dia memberi bahkan sebelum kita meminta. Dia menjaga ketika kita tidak menyadari sedang dijaga. Dia memberi nikmat bahkan ketika kita sedang diuji. Dan Dia selalu membuka jalan bagi hamba yang ingin kembali kepada-Nya.
Semoga setiap nikmat membuat kita semakin bersyukur, setiap ujian membuat kita semakin dekat kepada-Nya, dan seluruh perjalanan takdir kita menjadi jalan menuju ridha-Nya. Wallahua’lam bishowab (QDR)
Di dunia, setiap kenikmatan akan berakhir. Namun di surga, yang berakhir justru segala penderitaan.


Mandiri Amal Insani
MAI_Foundation
MAI_Foundation
Mandiri Amal Insani Official