fbpx

Tagihan yang Membawa Bahagia


Percayakah anda bahwa kebahagiaan itu sangat ditentukan oleh Tagihan?
Penulis: QodratSQ

 

Apakah bahagia bisa diukur dengan tagihan? Pertanyaan ini mungkin terdengar aneh. Namun, coba bayangkan: saat gaji baru masuk, lalu Anda bisa langsung melunasi semua tagihan listrik, air, cicilan rumah, kartu kredit, atau utang lainnya, hati terasa ringan, bukan? Ada kebahagiaan yang timbul karena beban kewajiban berkurang. Sebaliknya, ketika tagihan menumpuk, penagih datang silih berganti, bahkan debt collector mengetuk pintu rumah, hati menjadi gelisah, hidup penuh teror dan derita.

Dalam hidup sosial, tagihan adalah kewajiban yang harus kita tunaikan pada pihak lain. Dan benar, bahagia seringkali terasa ketika kita mampu menunaikannya. Semakin ringan kita membayar, semakin lapang hati. Semakin berat, semakin menderita.

Tagihan tidak hanya berbentuk cicilan atau kontrak ekonomi. Sesungguhnya, setiap manusia juga membawa “tagihan” dari orang-orang terdekatnya, Orang tua menagih bakti, doa, dan penghormatan. Pasangan menagih perhatian, kasih sayang, dan kesetiaan. Anak-anak menagih nafkah, pendidikan, dan teladan. Tetangga dan sahabat menagih tata krama, kepedulian, dan bantuan saat diperlukan. Semua itu adalah kewajiban yang jika kita tunaikan dengan ikhlas, justru akan menjadi sumber kebahagiaan, baik di dunia maupun akhirat.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada, ikutilah perbuatan buruk dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskannya, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)

Namun, ada satu jenis tagihan yang jauh lebih penting daripada listrik, air, atau cicilan yakni tagihan dari Tuhan. Tagihan ini bukan dalam bentuk surat penagihan bulanan, melainkan kewajiban ibadah, amal shalih, dan ketaatan. Bedanya dengan manusia, Tuhan menagih sesuai dengan apa yang Ia berikan. Bahkan, Dia Maha Pemurah: memberi jauh lebih banyak daripada yang ditagih-Nya.

Kita diberi napas, kesehatan, rezeki, keluarga, waktu, dan kesempatan. Sebagai balasan, yang ditagih hanyalah salat lima waktu, zakat sebagian kecil harta, puasa sebulan dalam setahun, dan amal kebaikan yang juga kembali untuk diri kita.

Allah berfirman: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286). Dan Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila aku perintahkan kalian suatu perkara, maka lakukanlah sesuai kemampuan kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim). Bukankah ini tagihan yang sangat adil, bahkan penuh kasih sayang?

Di dunia, menunda atau tidak membayar tagihan listrik bisa membuat rumah gelap gulita. Tidak membayar cicilan bisa membuat aset disita. Begitu juga dengan tagihan kepada Tuhan, siapa yang lalai menunaikan kewajibannya maka akan mendapat konsekuensi. Ada sanksi ringan berupa hati gelisah, hidup terasa sempit, rezeki seret. Itu adalah peringatan agar kita kembali ke jalan yang lurus. Dan ada juga sanksi berat kelak di akhirat, mereka yang mengabaikan tagihan kepada Tuhan akan menanggung akibatnya, sebagaimana firman Allah: “Maka rasakanlah (azab ini) karena kamu melupakan pertemuan dengan harimu ini; sesungguhnya Kami pun melupakan kamu, dan rasakanlah azab yang kekal atas apa yang kamu kerjakan.” (As-Sajdah: 14).

Setiap tagihan duniawi biasanya berakhir dengan tanda terima atau bukti lunas. Ada rasa lega, tetapi hanya sebatas itu. Sedangkan tagihan kepada Tuhan memiliki balasan yang jauh lebih agung: hadiah kekal bernama Surga. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka surga-surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah darinya.” (Al-Kahfi: 107–108). Bayangkan, dengan membayar tagihan berupa salat, zakat, puasa, menjaga akhlak, dan amal kebaikan, imbalannya bukan sekadar tenang di dunia, tetapi tempat abadi penuh kedamaian, kebahagiaan tanpa tagihan, dan karunia tanpa batas.

Sebaliknya, mereka yang menolak membayar tagihan Tuhan -yakni lalai salat, enggan berbagi, berbuat zalim, atau hidup tanpa rasa Syukur- akan menanggung akibat yang pedih. Allah memperingatkan: “Maka adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya.” (An-Nazi‘at: 37–39). Jika di dunia orang yang tidak membayar cicilan bisa ditagih debt collector, maka di akhirat penagihnya adalah malaikat, dan “penyitaannya” adalah kebebasan jiwa diganti dengan azab yang tidak terbayangkan.

Tagihan dunia bisa saja ditunda atau dicicil dengan negosiasi. Namun tagihan dari Tuhan tidak ada jalan pintas. Ada dua akhir yakni lunas dan berbuah Surga dengan segala kenikmatannya. Membangkang dan berakhir di Neraka dengan siksaan yang abadi. Inilah mengapa bijak bila kita menunaikan tagihan Tuhan dengan ringan hati, penuh syukur, bahkan berusaha “membayar lebih” dengan amal tambahan, karena setiap kebaikan akan kembali kepada kita sebagai pahala yang berlipat ganda.

Hakikatnya, membayar tagihan kepada Tuhan dan sesama bukanlah sekadar kewajiban, tetapi jalan menuju kebahagiaan. Ibadah adalah bentuk syukur. Amal baik adalah bentuk investasi. Dan setiap ketaatan adalah “cicilan” menuju kebahagiaan abadi. Seperti seseorang yang tenang karena cicilan rumahnya lunas, jiwa seorang mukmin lebih tenang karena ia yakin tagihannya kepada Tuhan dan sesama ia bayar tepat waktu, bahkan lebih, dengan amal tambahan dan kebaikan yang melimpah.

Bahagia memang tergantung tagihan. Tapi tagihan yang paling menentukan bukanlah cicilan duniawi, melainkan kewajiban kita kepada Tuhan dan sesama manusia. Berbahagialah mereka yang melunasinya dengan ringan hati, karena sesungguhnya Tuhan Maha Pemurah, memberi lebih banyak dari yang Ia tagih, dan mengganti setiap pembayaran dengan pahala yang tidak ternilai. Wallahua’lam (QDR)

Form Konsultasi

RELATED ARTIKEL