QodratSQ
Kita sering mengira ujian hidup selalu datang dalam bentuk kesulitan. Gagal, kehilangan, kekurangan, penolakan. Padahal Al-Qur’an memberi perspektif yang lebih luas. Allah berfirman, “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.” (QS. Al-Anbiya: 35). Perhatikan baik-baik: bukan hanya keburukan, tetapi juga kebaikan. Artinya, kelapangan, keberhasilan, bahkan popularitas pun termasuk dalam daftar soal yang harus kita jawab dengan hati yang benar.
Ketika karier naik, usaha berkembang, dan nama mulai diperhitungkan, rasa bangga itu manusiawi. Kita bekerja keras, begadang, berkorban, menyusun strategi. Namun di situlah ujian yang sangat halus. Apakah kita masih melihat semua itu sebagai titipan? Allah mengingatkan, “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu; tetapi jika kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7). Syukur bukan sekadar ucapan, melainkan kesadaran bahwa keberhasilan bukan murni hasil kehebatan diri.
Al-Qur’an bahkan mengingatkan kisah orang yang salah membaca suksesnya. Qarun berkata, “Sesungguhnya aku diberi (harta) itu semata-mata karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78). Kalimatnya terdengar rasional, tetapi hatinya terjebak pada kesombongan. Ia lupa bahwa kemampuan pun adalah pemberian. Sukses yang tidak disertai kesadaran seperti itu bisa berubah dari nikmat menjadi sebab kehancuran.
Lebih dalam lagi, Allah berfirman, “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun apabila Tuhannya mengujinya lalu disempitkan rezekinya, maka dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku.’ Sekali-kali tidak!” (QS. Al-Fajr: 15–17). Ayat ini menegur cara berpikir kita. Kemuliaan bukan selalu tanda dicintai, dan kesempitan bukan selalu tanda dibenci. Keduanya sama-sama ujian.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan betapa nikmat sering meninabobokan manusia. Beliau bersabda, “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari). Tambahkan pada itu nikmat jabatan, pengaruh, dan kelapangan rezeki—betapa mudah manusia merasa aman, padahal sedang diuji. Bahkan beliau juga bersabda, “Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi aku khawatir dunia dibentangkan untuk kalian sebagaimana dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka berlomba, maka dunia itu membinasakan kalian sebagaimana membinasakan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim). Bukan miskin yang paling berbahaya, tetapi ketika dunia terasa begitu mudah digenggam.
Sukses juga menguji prioritas. Apakah kita tetap menjaga salat tepat waktu ketika jadwal rapat padat? Apakah keluarga tetap mendapat kehadiran, bukan hanya fasilitas? Apakah sedekah tetap mengalir ketika rekening sudah terasa aman? Allah mengingatkan, “Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan.” (QS. Al-Anfal: 28). Bukan berarti harta dan keluarga itu buruk, tetapi keduanya bisa menjadi barometer apakah hati kita tetap lurus atau mulai condong.
Pada akhirnya, sukses sejati bukan sekadar naiknya posisi, tetapi tetapnya kerendahan hati. Rasulullah ﷺ adalah manusia paling mulia, namun beliau tetap duduk bersama orang miskin, menambal sandalnya sendiri, dan berdoa dengan penuh ketundukan. Itulah standar yang membuat kita sadar: semakin tinggi seseorang di mata manusia, seharusnya semakin tunduk ia di hadapan Allah.
Maka jika hari ini hidup terasa lapang, karier melesat, usaha berkembang, dan doa-doa banyak yang terjawab, bersyukurlah dengan sungguh-sungguh. Tetapi jangan lengah. Sukses itu bukan garis akhir, melainkan bab baru dari ujian. Karena boleh jadi, saat kita merasa sudah sampai, Allah sedang melihat: apakah kita tetap tahu siapa yang sebenarnya mengantarkan kita ke sana. (Qdr2026)


Mandiri Amal Insani
MAI_Foundation
MAI_Foundation
Mandiri Amal Insani Official