Penulis: QodratSQ
Menjelang akhir Ramadhan, ada fenomena yang hampir selalu sama setiap tahun. Mall tiba-tiba terasa seperti lautan manusia. Diskon Lebaran dipasang besar-besar, toko pakaian penuh sesak, dan parkiran kendaraan mendadak seperti arena perlombaan mencari tempat kosong. Orang-orang berjalan cepat dari satu toko ke toko lain, menimbang warna baju, mencoba sepatu, membandingkan harga, bahkan kadang rela berdesakan demi sebuah potongan harga. Menariknya, energi yang biasanya terasa berat ketika menuju masjid malam hari, tiba-tiba berubah menjadi sangat kuat ketika mendengar kata “diskon Lebaran”.
Tidak ada yang salah dengan membeli baju baru atau menyiapkan kebutuhan hari raya. Islam bahkan menganjurkan umatnya tampil rapi dan baik pada hari Id. Rasulullah ﷺ sendiri menyukai pakaian terbaik ketika hari raya. Jadi membeli baju Lebaran bukan masalah. Masalahnya muncul ketika semangat berburu pakaian baru jauh lebih besar daripada semangat berburu pahala di sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Lucunya, sebagian orang bisa berjalan berjam-jam di mall tanpa merasa lelah, tetapi merasa sangat berat ketika berdiri beberapa rakaat dalam shalat malam. Bisa menghabiskan waktu lama memilih warna baju, tetapi merasa terlalu sibuk untuk membuka mushaf beberapa halaman Al-Qur’an. Seolah-olah tubuh ini sangat siap untuk dunia, tetapi selalu mencari alasan ketika diajak menuju ibadah.
Padahal justru pada sepuluh malam terakhir inilah Ramadhan mencapai puncaknya. Pada malam-malam ini Allah menyimpan sebuah malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar. Satu malam ibadah pada malam itu setara dengan lebih dari delapan puluh tiga tahun. Jika dihitung dengan logika sederhana, satu malam tersebut adalah “investasi spiritual” yang bahkan tidak bisa ditandingi oleh seluruh keuntungan dunia.
Karena itu Rasulullah ﷺ memberikan teladan yang sangat berbeda dengan kebiasaan banyak orang hari ini. Ketika sepuluh malam terakhir Ramadhan tiba, beliau tidak justru sibuk dengan urusan dunia. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa beliau menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan kesungguhan dalam beribadah. Artinya, semakin dekat Ramadhan kepada akhir, semakin serius beliau mendekat kepada Allah.
Para ulama salaf juga sering menasihati dengan ungkapan yang cukup “menyentil”. Al-Hasan Al-Basri pernah berkata bahwa Ramadhan adalah arena perlombaan bagi manusia dalam ketaatan. Ada yang menang dan ada yang tertinggal. Beliau bahkan mengatakan sesuatu yang cukup tajam: sungguh mengherankan melihat orang yang masih tertawa dan lalai ketika orang-orang saleh sedang bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu yang tersisa.
Kalimat itu sebenarnya seperti cermin yang halus namun jujur. Betapa sering kita sangat serius mempersiapkan hari raya, tetapi tidak terlalu serius mempersiapkan diri agar diampuni dosa-dosanya. Kita khawatir jika baju Lebaran tidak serasi, tetapi jarang merasa khawatir jika Ramadhan berlalu tanpa perubahan berarti pada hati kita.
Padahal jika dipikirkan dengan tenang, belanja Lebaran sebenarnya tidak membutuhkan seluruh malam kita. Baju bisa dibeli siang hari. Kue bisa disiapkan lebih awal. Banyak urusan dunia bisa diatur waktunya. Tetapi kesempatan meraih Lailatul Qadar tidak datang setiap hari. Ia hanya hadir pada malam-malam tertentu yang bahkan tidak kita ketahui secara pasti.
Karena itu para ulama salaf justru melakukan kebalikan dari kebiasaan kita sekarang. Ketika sepuluh malam terakhir Ramadhan tiba, mereka mengurangi kesibukan dunia dan memperbanyak ibadah. Mereka memahami bahwa akhir Ramadhan adalah kesempatan terakhir untuk memperbaiki apa yang mungkin kurang di awal bulan.
Pada akhirnya, Ramadhan bukan diukur dari seberapa meriah kita menyambut Idul Fitri. Ramadhan diukur dari seberapa berubah hati kita setelah ia pergi. Baju baru hanya dipakai beberapa kali, kue Lebaran hanya habis dalam beberapa hari, tetapi pahala dari satu malam yang penuh ibadah akan tersimpan sampai hari kita berdiri di hadapan Allah.
Jadi, jika ingin belanja Lebaran, silakan saja. Islam tidak melarangnya. Tetapi jangan sampai kita pulang membawa banyak kantong belanja, sementara tangan kita kosong dari pahala sepuluh malam terakhir.
Akan lebih indah jika ketika Idul Fitri tiba, kita tidak hanya mengenakan pakaian baru, tetapi juga membawa hati yang benar-benar baru—hati yang telah disentuh oleh Ramadhan dan didekatkan kembali kepada Allah. Wallahua’lam (Qdr)


Mandiri Amal Insani
MAI_Foundation
MAI_Foundation
Mandiri Amal Insani Official