fbpx

Mengapa Tuhan Tidak Selalu Memberi Apa Yang Kita Minta?

Padahal DIA Maha Segalanya, Tak ada sedikitpun kesulitan bagi-Nya
QodratSQ

“Kita sibuk menghitung apa yang belum Allah berikan, tetapi sering lupa menghitung apa yang terus Allah berikan.”

Ada banyak doa yang belum menjadi kenyataan. Ada harapan yang masih tertunda, ada keinginan yang telah lama kita sampaikan dalam doa, tetapi sampai hari ini belum juga Allah berikan. Pada saat seperti itu, sangat manusiawi jika kemudian muncul pertanyaan, “Mengapa Allah belum mengabulkannya?” Kita mulai menghitung apa yang belum kita miliki, membandingkan kenyataan dengan harapan, lalu perlahan merasa seolah ada sesuatu yang kurang dalam hidup kita.

Padahal mungkin persoalannya bukan pada sedikitnya pemberian Allah, melainkan pada cara kita menghitungnya. Kita begitu teliti mengingat doa yang belum terkabul, tetapi sering lupa pada begitu banyak hal yang telah Allah berikan tanpa pernah kita minta. Kita tidak pernah meminta jantung untuk terus berdetak ketika tidur, tidak pernah memohon agar paru-paru tetap bekerja sepanjang malam, bahkan sering tertidur tanpa meminta agar esok pagi masih diberi kesempatan membuka mata. Namun semua itu tetap Allah berikan, hari demi hari.

“Keinginan kita dibatasi oleh pengetahuan kita. Pemberian Allah tidak.”

Manusia hanya mampu meminta berdasarkan apa yang diketahuinya hari ini. Kita meminta sesuatu karena menurut perhitungan kita itulah yang terbaik. Kita menginginkan sebuah pekerjaan, seseorang, kesempatan, rezeki, atau jalan tertentu karena hanya sejauh itulah pandangan kita mampu menjangkau. Sementara Allah mengetahui bukan hanya hari ini, tetapi juga hari-hari yang belum kita jalani. Kita hanya mengetahui apa yang kita inginkan, sedangkan Allah mengetahui apa yang kita butuhkan, apa yang akan terjadi setelahnya, bahkan apa yang harus dijauhkan agar hidup kita tetap berada dalam kebaikan.

Kisah Hajar adalah gambaran yang sangat indah tentang hal itu. Di lembah Makkah yang tandus, ia ditinggalkan bersama Ismail kecil di tempat yang hampir tidak menawarkan apa pun untuk kehidupan. Tidak ada tanaman, tidak ada sumber air, dan tidak ada manusia di sekitarnya. Ketika persediaan air habis dan Ismail mulai kehausan, Hajar berlari menuju Shafa. Dari ketinggian ia memandang ke kejauhan, berharap melihat seseorang atau kafilah yang dapat menolong. Tidak ada. Ia pun berlari menuju Marwah dan kembali memandang ke kejauhan. Tetap tidak ada. Begitu terus dilakukannya hingga tujuh kali.

Mungkin yang ada dalam pikiran Hajar saat itu sangat sederhana: semoga ada manusia yang datang membawa sedikit air. Cukup untuk menghilangkan haus Ismail dan membuat mereka mampu bertahan satu hari lagi. Tetapi Allah tidak mendatangkan apa yang sedang ia cari. Pertolongan itu justru muncul dari tempat yang tidak sedang ia pandangi. Di dekat Ismail, Allah memancarkan Zamzam.

“Hajar mencari pertolongan di kejauhan. Allah telah menyiapkan pertolongan begitu dekat dengannya.”

Hajar mungkin hanya membutuhkan beberapa teguk air, tetapi Allah memberinya sebuah sumber air. Hajar mencari manusia karena membutuhkan air, tetapi Allah justru memberinya air yang kemudian mendatangkan manusia. Kabilah Jurhum datang dan meminta izin untuk tinggal di sekitar sumber tersebut. Lembah yang sebelumnya sunyi perlahan menjadi tempat kehidupan. Hajar mungkin hanya sedang memikirkan bagaimana ia dan anaknya dapat bertahan hari itu, sementara Allah sedang menyiapkan sesuatu yang pengaruhnya akan melampaui usia mereka.

“Hajar meminta untuk kebutuhan hari itu. Allah memberi untuk masa depan yang belum mampu ia lihat.”

Barangkali seperti itulah sebagian perjalanan hidup kita. Kita meminta sebuah pekerjaan, sementara Allah mungkin sedang menyiapkan jalan hidup yang berbeda. Kita meminta tambahan rezeki, sementara Allah mungkin sedang menjauhkan sebuah musibah yang akan menghabiskan jauh lebih banyak. Kita meminta seseorang tetap tinggal, sementara Allah mengetahui bahwa kepergiannya justru akan membawa kita menuju kebaikan yang hari ini belum mampu kita pahami.

Sebab nikmat tidak selalu berbentuk sesuatu yang Allah datangkan. Terkadang nikmat justru berupa sesuatu yang Allah jauhkan. Musibah yang tidak jadi terjadi, keputusan buruk yang batal kita ambil, perjalanan yang tertunda, pertemuan yang tidak pernah terjadi, atau sebuah pintu yang tertutup sebelum kita sempat memasukinya. Kita mungkin kecewa ketika itu terjadi, karena kita hanya melihat sebuah kehilangan. Padahal boleh jadi, pada saat yang sama, Allah sedang memberikan perlindungan.

Dan ada satu jenis nikmat yang hampir tidak pernah kita syukuri: musibah yang tidak pernah terjadi. Kita tidak pernah tahu berapa banyak bahaya yang telah Allah belokkan dari jalan hidup kita, berapa banyak kesulitan yang seharusnya datang tetapi dijauhkan, atau berapa banyak keputusan yang nyaris membawa kita kepada penyesalan tetapi kemudian Allah gagalkan. Kita tidak mengetahuinya, maka kita pun tidak pernah terpikir untuk mensyukurinya.

“Tidak semua yang tidak kita dapatkan adalah kehilangan. Sebagiannya adalah perlindungan Allah yang tidak pernah kita ketahui.”

Namun kisah Hajar juga mengingatkan bahwa percaya kepada Allah bukan alasan untuk berhenti berusaha. Hajar tidak duduk di samping Ismail sambil menunggu mukjizat. Ia berlari. Dari Shafa menuju Marwah, lalu kembali lagi. Menariknya, Zamzam tidak keluar dari Shafa ataupun Marwah. Air itu muncul di tempat lain. Tetapi Hajar tetap harus berlari.

Di situlah tawakal menemukan maknanya. Tawakal bukan keyakinan bahwa karena Allah akan menolong maka kita tidak perlu melakukan apa-apa. Tawakal adalah kesediaan untuk terus berusaha sambil menyadari bahwa hasil tidak selalu datang dari arah yang sedang kita usahakan. Kita diperintahkan untuk berjalan, tetapi kita tidak pernah diberi kuasa untuk menentukan dari mana pertolongan Allah harus datang.

“Tawakal adalah terus berjalan, sambil percaya bahwa Allah dapat membuka jalan dari arah yang bahkan tidak pernah kita pikirkan.”

Maka teruslah meminta. Teruslah mengetuk pintu-Nya dengan doa. Teruslah berjalan antara “Shafa dan Marwah” kehidupan kita. Berusahalah sebaik yang kita mampu, tetapi jangan membatasi cara Allah menjawab doa sebesar apa yang mampu kita bayangkan. Sebab kita meminta berdasarkan apa yang mampu kita lihat, sementara Allah memberi berdasarkan apa yang Dia ketahui.

Sesekali, ketika merasa hidup belum memberikan apa yang kita harapkan, mungkin kita perlu berhenti menghitung apa yang belum Allah berikan. Lihatlah kembali perjalanan yang telah dilewati. Ada pintu yang tiba-tiba terbuka, ada orang baik yang dipertemukan, ada rezeki yang datang tanpa direncanakan, ada kesulitan yang ternyata mampu kita lewati, dan ada begitu banyak keadaan buruk yang entah bagaimana tidak pernah sampai kepada kita.

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk menunggu satu doa dikabulkan, sampai lupa bahwa hidup kita sendiri sebenarnya telah dipenuhi oleh ribuan pemberian yang tidak pernah kita minta.

“Kita meminta berdasarkan apa yang mampu kita lihat. Allah memberi berdasarkan apa yang Dia ketahui.”

Karena itu, tetaplah meminta apa yang kita inginkan. Allah menyukai hamba yang datang membawa harapan dan kebutuhannya. Tetapi setelah meminta, berikan ruang bagi Allah untuk menjawab dengan cara-Nya. Jangan ukur kasih sayang Allah hanya dari terkabul atau tidaknya satu permintaan, sebab pengetahuan kita terlalu pendek untuk menilai seluruh rencana-Nya.

Allah memang tidak selalu memberi apa yang kita minta. Namun sepanjang hidup, Dia telah memberi begitu banyak hal yang bahkan tidak pernah terpikir oleh kita untuk meminta. Dan barangkali, pada akhirnya kita akan menyadari bahwa beberapa pemberian terbaik Allah dalam hidup ini justru adalah hal-hal yang tidak pernah ada dalam daftar doa kita. Wallahua’lam bishowab (Qdr)

Form Konsultasi

RELATED ARTIKEL