fbpx

M E S T A K U N G

 

Momen ketika hidup tiba-tiba jadi terasa begitu ringan
QodratSQ

 

Pintu-pintu kesempatan terbuka seolah tanpa diketuk. Pertemuan dengan orang-orang baik hadir di waktu yang tepat. Bahkan hal-hal kecil yang awalnya dianggap kebetulan, ternyata menyusun mozaik besar yang mendekatkan Anda pada impian.

Inilah yang sering disebut orang dengan istilah: Mestakung, Semesta Mendukung.

Ungkapan ini populer dalam psikologi motivasi maupun filsafat kehidupan. Ia melukiskan sebuah fase ketika jagat raya seakan-akan bekerja sama, mengantar manusia mencapai tujuan. Dan memang, dalam perjalanan menuju cita-cita, tak jarang kita menemukan momen seperti itu.

Namun, persoalan pentingnya adalah apakah setiap mestakung itu pertanda kebaikan? Apakah selalu tanda ridha Tuhan?

 

Dua Wajah Mestakung

1. Mestakung sebagai Anugerah

Bagi seorang hamba yang menjaga niat lurus, bersungguh-sungguh dalam ikhtiar, dan tetap merawat iman, mestakung bisa menjadi anugerah.
Itulah saat di mana Allah menurunkan pertolongan melalui cara-cara yang lembut dan tak terduga.
Dalam bahasa agama, kita menyebutnya taufiq dan barakah.

Allah berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti AKU akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka ssungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan baginya, maka Allah memberinya pemahaman dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kemudahan dunia yang beriringan dengan iman dan ketaatan, adalah tanda kebaikan Allah untuk hamba-Nya.

 

2. Mestakung sebagai Istidraj

Di sisi lain, mestakung juga bisa dialami oleh orang-orang yang hidupnya jauh dari Allah. Mereka tetap berhasil, mereka tetap kaya, mereka tetap disanjung. Jalan mereka pun terasa lapang.

Tetapi semua itu bukanlah barakah melainkan istidraj, nikmat yang tampak indah di luar, namun sejatinya adalah jebakan.
Allah berfirman:

“Maka tatkala mereka melupakn peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.”
(QS. Al-An‘am [6]: 44)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila kamu melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba padahal dia terus menerus berbuat maksiat, maka ketahuilah bahwa itu adalah istidraj.”
(HR. Ahmad, Thabrani, dan Baihaqi, dinilai hasan oleh Al-Albani)

 

Kisah Nyata Mestakung

Anugerah Mestakung Untuk Nabi Sulaiman As

Nabi Sulaiman As diberi kerajaan yang luar biasa. Bukan hanya manusia, bahkan jin, hewan, dan angin tunduk kepada perintahnya. Jika ada yang disebut semesta mendukung, maka kehidupan Nabi Sulaiman adalah contoh terbaik.

Allah berfirman:

“Dan Kami tundukkan angin bagi Sulaiman; perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan, dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula). Dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Tuhannya…”(QS. Saba’ [34]: 12)

Namun, keistimewaan Sulaiman tidak membuatnya sombong. Ia justru berdoa:

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yg telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai…”(QS. An-Naml [27]: 19)

Inilah mestakung sejati.. ketika kekuasaan dan kemudahan justru menambah syukur dan ketundukan.

 

Qarun pun Merasa Mestakung

Di sisi lain, ada Qarun. Ia adalah salah satu orang paling kaya di zaman Nabi Musa a.s. Kekayaannya digambarkan begitu dahsyat, hingga kunci-kunci gudang hartanya pun dipikul oleh sekelompok orang kuat.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa, tetapi dia berlaku zalim terhadap mereka. Dan Kami telah memberinya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat…”
(QS. Al-Qashash [28]: 76)

Namun, Qarun justru angkuh. Ia berkata:

“Sesungguhnya aku hanya diberi (harta itu), karena ilmu yang ada padaku.”
(QS. Al-Qashash [28]: 78)

Ia merasa semua itu murni karena kepandaiannya, bukan karunia Allah. Maka Allah pun menenggelamkannya beserta rumahnya ke dalam bumi (QS. Al-Qashash [28]: 81).

Kisah Qarun adalah potret mestakung istidraj, yakni kelapangan dunia yang menipu, berakhir dengan kebinasaan abadi.

 

Tips Agar Mendapat Mestakung yang Benar

Agar mestakung yang kita alami menjadi tanda cinta Allah, bukan jebakan, ada beberapa sikap batin dan amal yang bisa kita latih:

1. Luruskan Niat

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Jaga Ketaatan di Tengah Kemudahan

Shalat, doa, dan ibadah harus tetap menjadi poros, meski dunia terasa berpihak.

3. Perbanyak Syukur

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah benar-benar memiliki karunia atas manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS. Yunus [10]: 60)

4. Bersedekah di Puncak Kemudahan

Jangan tunggu sempit baru berbagi. Justru di saat lapang, kita diuji: apakah syukur kita nyata?

5. Evaluasi Hati

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

“Dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Pertanyaan sederhana untuk evaluasi: “Apakah jalan ini mendekatkan aku kepada Allah, atau justru menjauhkan?”

 

Bagaimana Dengan Para Pemegang Amanah?

Bagi mereka yang dipercaya sebagai pemimpin, pejabat, atau pengelola hajat hidup orang banyak, mestakung sering terasa lebih nyata. Jabatan mendatangkan kekuasaan, fasilitas, akses, bahkan penghormatan. Orang-orang mendukung, aturan berpihak, seolah-olah seluruh sistem pun ikut melapangkan jalan.

Namun ingatlah, semua itu bisa jadi rahmat yang membuka jalan ke surga, atau istidraj yang justru menyeret ke neraka.

Kunci pembeda hanya satu: bagaimana nikmat itu digunakan.

Jika kekuasaan dipakai untuk melayani, jabatan menjadi ladang pahala.
Jika fasilitas digunakan untuk memperjuangkan rakyat, maka itu barakah.
Namun bila kekuasaan melahirkan kesombongan dan menindas yang lemah, maka ia hanya fatamorgana yang menipu.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

“Pemimpin yang paling dicintai Allah adalah pemimpin yang mencintai rakyatnya, dan rakyatnya pun mencintainya. Sedangkan pemimpin yang paling dibenci Allah adalah pemimpin yang membenci rakyatnya, dan rakyatnya pun membencinya.” (HR. Tirmidzi, Ahmad)

Maka, wahai para pemegang amanah, berhati-hatilah. Semesta bisa saja mendukung Anda hari ini. Tapi yang lebih penting adalah.. apakah Sang Pemilik Semesta juga meridhai langkah Anda?

Didukung Semesta atau Didukung Pemilik Semesta?

Mestakung memang menakjubkan. Ia memberi energi, keyakinan, dan semangat juang. Tapi yang lebih penting adalah apakah mestakung itu datang sebagai rahmat atau istidraj.

Allah memberi janji yang menenangkan:

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. At-Talaq [65]: 2–3)

Semoga setiap kemudahan yang kita temui bukanlah fatamorgana istidraj, melainkan anugerah tulus yang akan mengantar kita pada kebahagiaan abadi. Wallahu a’lam. (Qdr)

Form Konsultasi

RELATED ARTIKEL