fbpx

Lima Menit Terakhir

QodratSQ

Seberapa berhargakah lima menit..? Pertanyaan sederhana ini ternyata tidak pernah memiliki jawaban tunggal. Waktu, seperti udara, tampak sama bagi semua orang namun nilainya berbeda di hati tiap manusia.

Dalam sepak bola, kita melihat rahasia waktu bekerja dengan caranya yang misterius. Bagi tim yang sedang unggul, lima menit terasa merangkak seakan setiap detik seperti menahan napas, jarum jam seakan tak mau bergerak. Namun bagi tim yang sedang kalah dan mengejar asa, lima menit itu melaju seperti angin terasa berlalu terlalu cepat, terlalu tergesa, seperti sedang mengejar bayangan sendiri.

Begitu pula hidup ini…
Bagi jiwa-jiwa yang dekat dengan Allah, dunia terasa panjang. Mereka tidak silau oleh gemerlapnya atau tergesa oleh hiruk pikuknya. Mereka menjalani hari dengan ketenangan seorang musafir yang tahu ke mana ia menuju, jelas dan pasti yakni“pertemuan dengan Tuhan-Nya.” Ada rindu yang membuat langkah mereka sabar, ada yakin yang membuat hidup mereka teratur. Waktu tidak mengejar mereka, justru merekalah yang mengisinya dengan makna.

Namun bagi mereka yang jauh dari agama, dunia melesat tanpa memberi jeda. Tahun berganti seperti bayang-bayang yang tak sempat disentuh. Kesibukan demi kesibukan menyita nurani, hingga tiba-tiba senja kehidupan datang mengetuk, dan mereka tersadar bahwa waktu tak pernah bisa dinegosiasikan. Saat ajal mendekat, mereka ingin meminta tambahan sekedar lima menit saja, sekadar untuk berbenah, sekadar untuk kembali. Tetapi hidup tidak memberi injury time seperti sepak bola.

Dan di situlah letak renungannya:
Bukan lamanya hidup yang penting, tetapi bagaimana hati kita mengisi setiap menitnya.

Bagi orang yang lalai, lima menit terasa tidak berarti.
Bagi orang yang ingin taubat, lima menit terasa terlalu singkat.
Dan bagi orang yang rindu kepada Tuhannya, lima menit adalah kesempatan untuk menambah kebaikan, memperhalus jiwa, dan mendekatkan diri sedikit lebih jauh kepada keabadian.

Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa manusia akan menyesali dua hal: “Waktu luang dan kesehatan yang disia-siakan.”
Kita diberi hidup bukan untuk menunggu ajal, tetapi untuk menyiapkan diri menyambutnya. Maka sambutlah hari-hari baru yang menyapa dengan perbuatan baik agar kebaikan itu mengantarkanmu hingga akhir batas waktumu. Tidak ada yang tahu kapan lima menit terakhir kehidupan kita, karena kita tak diberitahu tentang kapan peluit panjang akan ditiup.

Maka jadikan setiap hari itu sebagai “Injury Time” agar kita selalu siap. Karena pada akhirnya, setiap kita akan tiba pada lima menit terakhir itu, entah cepat, entah lambat. Dan momen itu datang, kita sudah tak sempat lagi mempersiapkan diri. Hanya mereka yang telah mempersiapkan diri sejak jauh hari yang siap menghadapi waktu berakhir. Apakah kita sudah siap?

Wallahua’lam (Qdr)

Form Konsultasi

RELATED ARTIKEL