fbpx

Gaza & Dunia yang Bungkam

 

“Kadang-kadang, dunia tidak perlu buta untuk tidak melihat. Ia hanya perlu sibuk dengan dirinya sendiri.” 

Oleh: QodratSQ

Di bawah langit kelam memasuki senyap,
Gaza menunggu. Dentuman penjajah tak pernah berhenti,
di mana kata ‘damai’? Hanya gema di bibir-pembicara dunia…

Anak-anaknya menatap kosong, perut mereka kosong..
tak cukup biskuit energi,
tak cukup belaian bahkan harapan.

Dokter bergulat dengan generator yang kehabisan nafas,
ambulans berhenti..
di sana, hidup menanti deraian akhirnya.

Solidaritas dunia mekar di jalanan kota lainnya,
namun di Gaza, rasa lapar tetap tajam, mental tergundah,
bangunan roboh, sekolah hening… seolah ‘kenyataan’ disumbat.

Dunia memilih bungkam, menyeruak? Terdiam.
Gencatan senjata besar saja, akhirnya… nyaris tak merengkuh Gaza.
Sekadar jeda.. sementara mereka terjebak di penjara lumpur derita.

Apa artinya solidaritas? Bila masih harus mnyingkirkan luka,
masih harus mengantri maut di tengah antrean bantuan?

Saat dunia memilih bungkam saat derita menjerit,
saat pembelaan seperti bayang tipis,
Gaza tetap membuat kita bertanya:
adakah nurani yg masih bergetar di horizon kemanusiaan?

Langit Gaza adalah halaman kitab luka yang tak kunjung selesai ditulis.
Angin membawa aroma debu bercampur darah, dan setiap subuh menyapa anak-anak yang bangun bukan karena mimpi indah.. melainkan suara ledakan yang merobek malam.

Di bumi yang semestinya penuh keberkahan itu, derita tak kunjung reda. Gaza seperti Yatim Piatu dunia, tak punya pelindung yang benar-benar melindungi, tak punya suara yang benar-benar membela.
Dunia menoleh… tapi hanya sebentar.
Dunia menangis… tapi tak bertindak.

Kini, setelah gencatan senjata antara dua raksasa regional -Iran dan Israel- disambut sorak di ruang diplomasi, Gaza kembali sunyi. Sunyi dari perhatian. Sunyi dari pembelaan.
Deritanya tetap. Tapi gaungnya menipis.

 

Wajah Anak-Anak di Kaki Langit

Apa kabar anak-anak Gaza hari ini?
Mereka tidak sedang bermain layang-layang..
Mereka sedang menggali reruntuhan mencari sisa mainan, atau… sisa keluarga.

Lebih dari 57.000 nyawa telah pergi bukan karena gempa, bukan karena bencana alam, tapi karena ketamakan manusia.
Anak-anak adalah yang paling banyak terluka. Bukan hanya kulit mereka.. juga jiwa mereka.

Ada yang tak lagi berbicara sejak melihat ibunya tewas di depan mata.
Ada yang menangis bukan karena lapar, tapi karena takut tertidur dan tak bangun lagi.
Dan ada yang… hanya diam, seolah dunia tak layak lagi ia percayai.

“Apakah mereka bukan bagian dari ummat Nabi Muhammad?”
tanya seorang gadis kecil pada gurunya di tenda darurat.
“Kalau iya, mengapa dunia Islam hanya mengirim doa, bukan pelukan?”

Pertanyaan itu menghantam. Bukan karena tidak ada jawabannya. Tapi karena jawabannya terlalu pahit untuk diucap.

 

Solidaritas yang Tak Kenyangkan Perut

Aksi solidaritas dunia memang ada. Jalanan kota-kota besar diisi seruan dan doa.
Tangan-tangan mengacung, poster “Free Palestine” menjulang.
Tapi di Gaza, perut tetap keroncongan.

Lebih dari 2 juta jiwa kini dalam krisis kelaparan akut.
Bantuan tak sampai. Bahkan yang datang pun mematikan.
613 warga Gaza terbunuh saat sedang mengantre bantuan.
Mereka datang untuk roti, pulang sebagai jenazah.

Apa arti solidaritas jika bantuan dikirim, tapi penjagaannya dibiarkan jadi ladang pembantaian?

“Kami tidak butuh belas kasihan. Kami butuh keadilan,”
ujar seorang ayah, yang kehilangan tiga anaknya karena serangan saat distribusi tepung.

Dan kita di sini, masih nyaman bertanya: “Mana yang asli, mana yang hoaks?”

 

Ketika Dunia Bungkam, Langit yang Bicara

Dalam diam dunia, langit tetap mencatat.
Air mata Gaza jatuh ke bumi, tapi mengetuk Arasy.
Dan dalam Islam, setiap nyawa tak bersalah yang dizalimi bukan hanya menjerit di bumi,
tetapi menjadi saksi di hadapan Tuhan.

“Barang siapa tidak peduli terhadap urusan kaum Muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka.”
(HR. Al-Hakim)

Apakah kita masih bagian dari mereka, Bro? Atau kita sudah terseret dalam kesibukan yang melenakan?

Di hari kiamat kelak, mungkin kita akan ditanya bukan hanya tentang apa yang kita lakukan,
tapi tentang apa yang kita diamkan.

 

Doa yang Diiringi Derak Langkah

Doa itu penting. Tapi doa yang sejati adalah yang mengguncang hati,
menggerakkan tangan, dan menghidupkan empati.

Kita tidak semua bisa ke Gaza. Tapi kita bisa bersuara.

Kita bisa menyumbang. Kita bisa mendesak pemimpin. Kita bisa mengingatkan dunia bahwa luka Gaza bukan bagian dari masa lalu,
tapi luka sekarang yang berdarah di depan mata.

Sumber Kesaksian:

  • UN OCHA (2025): Lebih dari 57.012 tewas, 134.592 luka
  • UNICEF & IPC: 244.000 warga dalam kelaparan tingkat “katastropik”
  • Al Jazeera (2025): 613 tewas saat antre bantuan
  • The New Yorker: 146% kenaikan malnutrisi akut anak sejak Februari 2025
  • ICRC: 50% fasilitas medis tak lagi berfungsi

(Qdr)

Form Konsultasi

RELATED ARTIKEL