Penulis: QodratSQ
Ada momen yang mengandung hikmah besar namun sering luput dari renungan. Yakni ketika seorang buta yang tiba-tiba mendapat penglihatan dia meninggalkan tongkatnya, padahal tongkat itulah penopang setia yang selama ini menuntun setiap langkahnya. Anehnya, justru alat yang paling dibutuhkan itu yang pertama dilepaskan.
Dari sini kita belajar bahwa ketergantungan, sekalipun menolong, kadang menghadirkan rasa terikat. Allah mengingatkan, “Manusia diciptakan dalam keadaan lemah” (QS. An-Nisā’ 4:28), dan kelemahan itu sering mendorong manusia mencari sandaran pada sesuatu yang bisa disentuh, digenggam, atau dipegang. Tetapi ketika kemampuan baru muncul, manusia spontan ingin mendefinisikan ulang kebebasannya.
Namun kontras yang jauh lebih dalam terlihat pada tongkat Nabi Musa ‘alaihissalām. Allah berfirman: “Dan apa yang ada di tangan kananmu, wahai Musa?” Musa menjawab, “Ini adalah tongkatku; aku bertumpu padanya, dan dengan itu aku menggembala kambingku, serta untuk keperluan-keperluan lainnya.” (QS. Ṭāhā 20:17–18)
Tongkat Musa bukan hanya alat bantu, bukan pula simbol kelemahan. Ia adalah media manifestasi kekuasaan Allah saat tongkat berubah menjadi ular (QS. Ṭāhā 20:20), saat lautan terbelah (QS. Asy-Syu’arā’ 26:63), dan saat para penyihir tunduk menyaksikan kebenaran. Namun Musa tak pernah menyandarkan hatinya pada tongkat itu; ia hanya mengikuti perintah Allah sebagaimana firman-Nya, “Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn” (QS. Al-Fātiḥah 1:5).
Dan di sinilah sebuah peringatan lembut perlu untuk kita, janganlah menjadi seperti orang buta yang setelah dapat melihat lalu membuang tongkatnya seakan tak pernah memerlukannya. Tongkat itu, betapapun sederhana, telah menuntun dan melindunginya selama masa-masa kegelapan. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa tidak mensyukuri yang sedikit, ia tidak akan mampu mensyukuri yang banyak.” (HR. Ahmad)
Inilah perbedaan mendasar antara tongkat orang buta ditinggalkan karena ia adalah gambaran ketergantungan manusia, sementara tongkat Musa dibawa ke mana pun karena ia adalah gambaran ketaatan dan tawakkal. Manusia biasa cenderung bergantung pada apa yang memberi rasa aman, lalu melepasnya saat kekuatan baru hadir. Tetapi para nabi membawa “tongkat” mereka sebagai bagian dari ikhtiar yang diridai.
Rasulullah SAW bersabda: “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang petang dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)
Maka hikmah akhirnya tampak bagi kita hikmah yang dalam, apa pun selain Allah, jika menjadi tempat bergantung, lambat laun terasa mengekang; tetapi apa pun yang Allah perintahkan, jika dijalani sebagai amanah, justru menjadi cahaya penuntun.
Dalam hidup, kita semua punya “tongkat” berupa kebiasaan, ilmu, pengalaman pahit, orang-orang yang menuntun, bahkan lembaga dan komunitas yang menguatkan kita saat lemah. Sebagian perlu dilepaskan agar kita tumbuh, dan sebagian lain harus tetap dibawa karena ia bagian dari jalan yang Allah ridhai.
Yang terpenting adalah memastikan bahwa sandaran sejati bukan pada tongkat apa pun, melainkan pada Tuhan yang memberi daya pada setiap tongkat itu. Wallahua’lam (Qdr)


Mandiri Amal Insani
MAI_Foundation
MAI_Foundation
Mandiri Amal Insani Official