Syukur dan Kedudukannya dalam Islam

 

Syukur dan kedudukannya dalam Islam

 

Tausiyah Senin

SYUKUR DAN KEDUDUKANNYA

Oleh: Dr. Fahruroji, MA (Dewan Pengawas Syariah MAI Foundation)

 

Kata “syukur” adalah kata yang berasal dari bahasa Arab. Dalam al-Qur’an  kata  syukur  dengan berbagai bentuknya ditemukan sebanyak enam puluh empat kali. Menurut Ar-Raghib al-Isfahani dalam Al-Mufradat fi Gharib al-Quran, kata syukur mengandung arti gambaran dalam  benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan. Dalam Mukhtasar Minhajul Qosidin pengertian syukur adalah memberikan pujian kepada yang memberikan kenikmatan dengan sesuatu yang telah diberikan kepada kita berupa perbuatan ma’ruf, dalam pengertian tunduk dan berserah diri kepada-Nya. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan syukur sebagai: (1) rasa terima kasih kepada Allah, dan (2) untunglah (pernyataan lega, senang, dan sebagainya). Menurut M. Quraish Shihab kata syukur ini berasal dari kata “syakara” yang berarti “membuka”, sehingga ia merupakan lawan dari kata “kafara” (kufur) yang berarti menutup atau melupakan nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Jadi, syukur adalah rasa terima kasih kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat dengan menampakkan nikmat tersebut yaitu menggunakannya sesuai dengan kehendak pemberi nikmat Allah SWT.

Syukur diperintahkan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya QS. al-Baqarah ayat 152:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”

Syukur adalah wasiat pertama yang disampaikan Allah SWT kepada manusia. Setelah manusia mampu berpikir, Allah memerintahkannya untuk bersyukur kepada-Nya dan kepada kedua orang tua (ibu bapak) sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Luqman ayat 14:

“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu. Hanya kepada-Kulah kembalimu.”

Allah juga memberitahukan kepada kita dalam kalam-Nya bahwa Dia ridho kepada orang-orang yang mensyukuri nikmat-Nya.

“…Jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhoi bagimu kesyukuranmu itu…(QS. Az-Zumar:7)

Allah SWT menjadikan “syukur” sebagai tujuan bagi hamba-Nya, seperti dalam firman-Nya: (لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ): “Agar kamu bersyukur”. Allah juga memerintahkan kita untuk bersyukur sebagai rasa konsistensi ‘ubudiyyah kita kepada-Nya. Mengenai hal ini, Allah menguraikan dalam firman-Nya QS al-Baqarah ayat 172:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik, yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”

Dalam kaitan ini Allah memuji Nabi Ibrahim As karena selalu mensyukuri nikmat Allah (QS. An-Nahl: 120-121), Allah juga memuji Nabi Nuh AS sebagai hamba-Nya yang banyak bersyukur (QS. Al-Isra: 3), Nabi Sulaiman As adalah seorang yang selalu mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya (QS. An-Naml: 19), Allah juga memerintahkan kepada keluarga Nabi Daud As untuk bersyukur (QS. Saba: 13). Allah juga memberikan pujian kepada hamba-hamba-Nya yang tidak pernah lalai dalam mensyukuri nikmat-Nya (QS. al-An’am: 53).

Allah SWT juga menerangkan bahwa dengan bersyukur kepada-Nya, pasti nikmat-Nya akan ditambah, sebaliknya Allah menegaskan bagi mereka yang kufur (ingkar) terhadap nikmat Allah SWT, maka adzab-Nya sangat pedih. Firman Allah SWT dalam QS. Ibrahim ayat 7:  “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Pada ayat di atas Allah SWT menegaskan bahwa jika kita bersyukur atas nikmat-Nya, maka Allah akan menambah nikmat kepada kita. Tambahan nikmat yang dimaksud di sini bisa berbentuk zahir seperti harta yang bertambah ataupun batin seperti ketentraman hati, kebahagiaan keluarga, kekhusyuan shalat, ataupun nikmat-nikmat yang nanti akan kita terima di akhirat nanti.

Kemudian ketika hamba-Nya kufur (ingkar) nikmat, Allah tegaskan bahwa “adzab-Ku sangat pedih”. Jadi, kufur nikmat menjadi penyebab seseorang mendapat adzab dari Allah, dan adzab ini bentuknya bermacam-macam bisa saja bentuknya adalah dicabutnya nikmat dengan berbagai cara. Bentuk-bentuk adzab lain misalnya adalah dicabutnya rasa takut kita untuk berbuat dosa atau menganggap baik perbuatan maksiat, tidak adanya keberkahan dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, dan sebagainya.

Semoga kita semua selalu menjadi insan yang bersyukur atas apa yang Allah berikan.

Aamiin aamiin ya rabbal’alamiin

 

Baca juga : Zakat Sebagai Salah Satu Pembangun Agama Islam (1)

RELATED ARTIKEL