Siapa Idolamu? Rasulullah SAW atau Dilan

                                                            Sumber: http://www.nu.or.id/

Fenomena Dilan sedang melanda dunia tanah air. Bahkan filmnya telah menorehkan prestasi sebagai film tercepat yang meraih angka jutaan dengan pendapatan opening day terbesar mengalahkan film luar yang tayang di Indonesia. Padahal film Dilan ini hanyalah cerita cinta sederhana ala anak SMA yang penuh dengan kata gombalan khas. Dilan yang naksir berat pada Milea hanya karena kecantikannya semata digambarkan dengan sosok yang tampan, pintar namun slengean, ketua geng motor, demen berantem namun sayang bundanya. Kata – kata yang diungkapkannya dianggap sebagai racun yang  meluluhkan hati wanita. Sungguh disayangkan jika mereka benar-benar mengidolakan Dilan hanya karena sosoknya yang keren dan romantis.

Jauh sebelum lahirnya Dilan, banyak sosok yang lebih keren dan romatis yang pantas dijadikan sebagai idola. Tentunya kisah cinta orang terbaik yang patut kita contoh, bukan Dilan dan Milea atau Romeo dan Julet tetapi Rasulullah SAW dan Siti Aisyah RA.

Alkisah, Rasulullah pernah pulang terlambat ke rumah Aisyah RA karena dalam pertemuannya beliau menjawab semua pertanyaan para sahabat. Sampai larut malam Aisyah RA tidak bisa tidur dan terus terjaga menunggu suaminya pulang. Rasulullah SAW pun pulang dengan berjalan cepat. Beliau tidak tega jika istrinya cemas dan menunggu kedatangannya. Sesampainya di depan pintu rumah beliau tidak segera mengetuk pintu. Niatnya mengetuk pintu hilang begitu saja karena tak ingin membangunkan istrinya. Akhirnya Rasulullah menggelar sorban di depan pintu dan kemudian tidur diatasnya. Dinginnya malam lebih dipilih daripada harus membangunkan istri tercintanya yang sedang beristirahat. Padahal dibalik pintu itu Aisyah RA pun tertidur dengan penuh kekhawatiran menunggu suami yang paling dicintainya pulang.

Sementara kisah Dilan dan Milea dalam salah satu scene yang sedang berada diatas motor ketika Milea tidak memakai jaket, Dilan bahkan tidak memberikan jaketnya. Dia mengatakan dengan bahasanya yang khas jika dia memberikan jaketnya maka dia akan sakit dan tidak ada yang akan menjaga Milea lagi.

Jika kita sandingkan dengan kisah cinta Rasulullah sangat terlihat jelas mana keromantisan yang sesungguhnya. Memang bukan tandingannya jika kita sandingkan kisah romantis Dilan dengan Rasulullah. Namun disini kita hanya memberi sebuah perbandingan kisah romantis sesungguhnya dan memberikan gambaran tentang idola yang patut ditiru. Sungguh cinta karena ketaatan kepada Allah jauh lebih romantis dari cinta jenis manapun.

Kekhawatiran selanjutnya terkait sosok Dilan ini adalah keselamatan pemikiran generasi muda. Mereka mungkin saja akan berprinsip nakal boleh asal hormat pada orang tua, bandel oke asal berprestasi di sekolah, berandalan gak masalah asal setia kawan dan romantis. Bisa dibayangkan berapa banyak remaja yang merasa dapat pembenaran melalui kelakuan Dilan dan Milea. Boncengan motor, pegangan tangan, cium pipi, dan roman picisan lainnya. Pemikiran islam makin tersingkirkan. Generasi muda muslim dibuat lupa akan gaya hidup islami yang seharusnya diterapkan. Mereka digiring untuk tidak lagi peduli halal haram dan baik benarnya sesuatu. Apapun bebas yang penting senang. Generasi muda yang seharusnya menjadi harapan terdepan ummat kini terus dicekoki oleh budaya barat yang liberal dan radikal, lalu bagaimana nasib calon pemimpin masa depan nanti?

Sudah saatnya kita sebagai generasi muda kembali pada ajaran Islam berpegang teguh pada Al-Qur’an sehingga tidak ikut terombang–ambing oleh suatu hal yang sedang booming. Karena salah satu yang menjadikan rusaknya akhlaq dan moral generasi muda adalah kurang kuatnya pendidikan agama.

Keimanan dan ketauhidan mereka mudah dibeli, akhirnya mereka salah dalam memilih suatu perkara dan terjerumus dalam lubang kemaksiatan. Jangan mudah terpengaruh dengan budaya baru yang hanya membuat kesenangan semu. Generasi muda harus berpikir panjang untuk melakukan suatu hal serta mengetahui dampak apa yang akan ditimbulkan dari perbuatan yang dilakukannya. Ingatlah bahwa maju mundurnya suatu bangsa tergantung pada kondisi generasi mudanya. Juga masa muda adalah bekal masa tua. Maka jadilah generasi muda yang terdepan memenuhi panggilan kewajiban, bukan generasi muda yang terlena dengan hal yang sia–sia. (esa/hal).

RELATED ARTIKEL