Perbandingan Yang Tak Seimbang

                                                        Sumber: http://www.mukminetwork.com/

Mengapa saat kita membaca surat At-Taubah, tidak boleh mengawalinya dengan bacaan Basmallah? Karena surat tersebut berisi tentang ancaman-ancaman Allah kepada orang kafir. Meski berisi tentang ancaman, tetapi didalamnya Allah juga menyuruh orang-orang kafir untuk segera bertaubat. Maha pengampunnya Allah sehingga setelah mereka berpaling dari-Nyapun jika mereka mau kembali kepada jalan yang hanif, Allah tidak akan menyia-nyiakannya.

Disebutkan dalam ayat kelima surat tersebut, bahwa Allah menyuruh kaum muslim berperang melawan kaum kafir, tetapi jika ada diantara mereka yang melaksanakan shalat, menunaikan zakat, maka Allah memberi kebebasan kepada mereka.

Kalian pernah berpikir, mengapa orang-orang yang lupa kepada Allah tetapi justru hidupnya lebih mudah? Orang Kristen banyak yang kaya, orang tak shalat tetap berjaya dan banyak lagi lainnya. Jawabannya karena Allah Maha Pengasih kepada semua makhluk, tak terkecuali. Bayangkan saja jika setiap orang yang melakukan dosa, Allah lenyapkan, mungkin hanya ada segelintir orang didunia ini karena manusia tempatnya salah dan lupa. Allah akan tetap memberikan Rahmannya sekalipun itu kepada mereka yang enggan bersyukur pada-Nya. Tetapi lihatlah apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir itu, niscaya Allah akan membalasnya.

Sedangkan orang yang beriman, mereka selalu diuji dan diuji. Semakin tinggi derajat keimanannya, semakin besar pula ujiannya. Orang-orang yang beriman tidak hanya mendapatkan Rahman/Rahmat (kasih), Rahim (sayang) pun akan didapatkan karena keimanannya. Rahman adalah sifat rahmat bagi Allah dimana rahmatnya bersifat sementara dan diberikan menyeluruh menyentuh semua makhluk di alam semesta.

Makanya kita jangan heran jika didunia ini banyak mereka yang tak taat tapi sukses dan kita juga tidak perlu iri terhadap mereka karena hal tersebut hanya bersifat sementara saja di dunia.

Berbeda dengan Rahman, Rahim mengandung sikap Allah yakni menunjukkan bahwa Allah mencurahkan rahmat yang berkesinambungan sampai akhirat kelak khusus untuk kaum mu’minin. Kebahagiaan kekal akan serta menghadiahinya sebagai balasan dari kesabaran menghadapi ujian di dunia fana. Maka kita yang diberi keimanan, tak henti-hentilah berucap syukur. Tanpa-Nya kita tak ada.

Sesungguhnya Allah mempunyai seratus rahmat. Lalu Allah turunkan satu rahmat-Nya ke dunia untuk seluruh makhluk, untuk jin, manusia dan hewan sehingga mereka saling berkasih sayang. Sembilan puluh Sembilan sisanya Allah simpan di akhirat untuk hambaNya yang sholeh. Cinta kasih sepasang kekasih, kasih sayang seorang ibu dan bahkan sebuasnya – buasnya hewan buas dia tidak akan memakan anaknya sendiri karena mereka juga diberikan rahmat oleh Allah.

Bisa dibayangkan satu rahmat saja di dunia, kita sudah merasakan begitu banyak cinta dan kebahagiaan, bagaimana nanti di akhirat yang akan dipenuhi oleh Rahmat-Nya. Dunia dan akhirat memang bukanlah tandingan untuk dibandingkan. Karena dunia itu fana sedangkan akhirat itu baqa.

“Demi Allah tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?” (HR Muslim No. 2868)

Dalam QS Al-Hajj : 22 Allah pun menggambarkan perbedaan waktu dunia dan akhirat. Allah berfirman :

وان يوماعندربك كالف سنة مماتعدون……

“Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu” (QS. Al-Hajj : 22)

Satu hari di dunia sama dengan seribu tahun di akhirat. Kalau kita bandingkan dengan umur kita hidup di dunia dengan waktu diakhirat maka usia kita hidup hanya sekitar 1,5 jam waktu akhirat dengan mengambil rata–rata umur manusia sampai 63 tahun berdasarkan patokan umur Rasulullah SAW.  Dengan rumus satu berbanding seribu dikalikan dengan umur kita hidup di dunia. Sungguh waktu yang sangat singkat namun banyak sekali manusia yang tersesat dalam waktu sekejap.

Janganlah kita terlena dengan gemerlap dunia yang hanya menjadi tempat persinggahan semata. Kita berada dalam perjalanan menuju kampung halaman yang sesungguhnya. Maka bersabarlah tetap syukur dan percaya janji Allah itu nyata. (esa/hal).

RELATED ARTIKEL