Mualaf, Ketika Allah Berkehendak

allah berkehendak

 

 

Ada yang aneh pada pagi ini. Beberapa sahabat Sekolah Muallaf menangis di kelas. Mereka menangis terharu karena melihat seorang sahabatnya yang terbata-bata melafalkan huruf hijaiyah. Dia adalah mualaf yang baru saja ikrar syahadat, sekitar 2 minggu yang lalu.

“Takut dan gemetar,”begitu kata perempuan yang tidak mau disebutkan namanya tersebut. Ia mulai melafalkan huruf demi huruf. Keringat dingin tampak di wajahnya ketika membaca huruf yang disambung menjadi kata.

Kejadian tersebut mirip seperti apa yang pernah Rasulullah alami  ketika diminta membacakan waktu pertama yang diturunkan Allah yaitu Surat Al Alaq. Rasulullah begitu takut, gemetar dan keringat bercucuran.

Karena kesungguhannya, akhirnya mualaf tersebut mampu membaca huruf yang disambung. Meski awalnya terbata, namun ia mampu menyelesaikannya.

Sebelum memulai kegiatan belajar di Sekolah Mualaf, seorang Pembina menyampaikan sedikit tausiyah.

“Niatkan kehadiran di Sekolah Mualaf untuk belajar karena Allah. Mintalah pertolongan Allah agar kita diberikan pemahaman hingga ilmu yang dipelajari memberi manfaat. Perbanyaklah doa kepada Allah, karena Allah menunggu doa dari hambanya. Mualaf mendapatkan keutamaan yang juga dinanti untuk diaamiinkan oleh penghuni langit. Mereka seperti bayi tanpa dosa. Jika diandaikan dengan gambaran kehidupan manusia, doa mualaf bagaikan tangisan bayi baru lahir yang ditunggu untuk didengar ibundanya. Ibunya akan memberikan ASI tanpa menunda dan pamrih,” terangnya.

“Dan orang-orang yang berjihad (sungguh-sungguh) untuk mencari keridhaan Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Ar-Rum:69)

Demikian janji Allah atas usaha sahabat mualaf hingga mampu membca huruf yang dirangkai menjadi kata. Dia mampu karena hatinya masih putih, suci dan tanpa noda ketika ikrar syahadat terucap. Ilmu itu bak cahaya. Cahaya yang mampu menembus jika hati sebening kaca atau sejernih air di pegunungan. Ilmu akan menempati tempat kosong yang bersih dan akan menghiasi seseorang dengan akhlak mulia.

 

*) Kisah ini disampaikan oleh Hadi Bun (Inisiator Sekolah Mualaf)

 

 

RELATED ARTIKEL