Mengapa Bersedekah Harus Ikhlas?

Sumber: http://www.nu.or.id

Seorang kaum muslim yang beriman dan bertakwa tahu, jika hidupnya adalah hanya untuk beribadah kepada Tuhannya. Maka tak heran kita akan melihat banyak catatan sejarah yang menceritakan bagaimana para sahabat Rasulullah bersedekah dengan penuh keikhlasan dan tanpa takut kehabisan harta. Kita lihat bagaimana Abu Bakar r.a yang banyak menghabiskan hartanya untuk kepentingan dakwah dan jihad fi Sabilillah. Tatkala Abu Bakar ra. berhijrah bersama Rasulullah SAW., Ia membawa hartanya sebanyak 6 ribu dirham atau setara dengan Rp 350 juta untuk dakwah Islam.

Kemudian kita lihat Utsman bin Affan ra. yang juga mengorbankan hartanya untuk Islam sebanyak 100 ekor unta beserta perlengkapannya dalam Perang Tabuk. Bahkan menurut periwayat hadits al-Baihaqi, Ia melakukan hal tersebut sebanyak 3 kali. Sehingga total semuanya adalah 300 ekor unta beserta perlengkapannya.

Sahabat Rasulullah yang lain dan gemar bersedekah juga adalah Abdurrahman bin Auf ra. yang pernah menjual tanahnya seharga 40 ribu dinar  atau setara dengan lebih dari Rp 80 miliar. Kemudian dibagikannya harta tersebut kepada fakir-miskin yang ada saat itu. Pada saat zaman perbudakan masih ada, Abdurrahman bin Auf ra. dalam riwayat Abu Nu’aim ia pernah membebaskan sebanyak 30.000 budak wanita.

Abdurrahman bin Auf ra. memang terkenal dalam kepiawaiannya dalam berdagang. Jadi meski berhijrah ke Madinah tanpa membawa harta, Ia bisa menjadi orang yang banyak harta di Madinah. Seperti dalam sebuah riwayat Ahmad digambarkan bagaimana saat Abdurrahman bin Auf ra. pulang dari Syam setelah berdagang kemudian datang ke Madinah dengan membawa 700 ekor unta beserta barang hasil dagangannya. Lalu Rasulullah mendengar kabar tersebut, dan bersabda “Aku melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dalam keadaan merangkak.”

Sabda Rasulullah kemudian sampai di telinga Abdurrahman bin Auf, tak berpikir terlalu panjang, ia langsung menyedekahkan seluruh yang ia bawa hingga ia berharap agar bisa masuk surga dengan cara berjalan.

Apa yang mereka cari? Sehingga dapat begitu rela menyedekahkan seluruh hartanya tanpa takut miskin? Ya, Ridho Allah yang mereka cari juga surga yang mereka rindukan. Sesungguhnya para sahabat memahami bagaimana hakikat hidup itu untuk apa. Untuk bekal kehidupan selanjutnya setelah dunia ini. Yaitu kehidupan akhirat, yang kekal abadi.

Form Konsultasi

RELATED ARTIKEL