Memacu Diri dalam Kebaikan

Sumber: https://darunnajah.com/

Pernahkah kita terpikir sejenak tentang siapa kita, mengapa kita disini atau apakah tujuan kita hidup? Pertanyaan–pertanyaan ini biasanya akan muncul ketika kita merasa terpuruk dan terkucilkan, agar bisa menilik tentang apa yang salah dari kehidupan yang kita jalani dan terpacu untuk bisa lebih baik melibatkan diri dalam kebaikan. Kadang diri merasa besar, berbangga atas apa yang dicapai tanpa teringat siapa sutradara dibalik sekenario hidup ini. Maka kembalilah kepada pertanyaan siapa kita? Kita terlahir tak bisa apa-apa dan kelak kembali dalam keadaan tak berdaya. Lalu apa yang membuat kita angkuh? Sekuat dan sehebat apapun bukan jaminan untuk hidup lebih lama dan terus berkuasa.

Ingatlah ketika kita masih bayi, berada dalam keadaan lemah yang selalu membutuhkan bantuan orang lain. Kemudian kita tumbuh menjadi dewasa dan berada dalam puncak kekuatan. Dimasa itulah kesempatan kita untuk menebar kebaikan, berbenah dan istiqomah. Janganlah berleha – leha karena puncak itu sekejap, hanya sesaat sebelum kita menua dan kembali kepada keadaan lemah.

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat kemudian menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa” (Qs. Ar-Rum : 54)

Bersegeralah untuk meninggalkan kesia-siaan. Gunakan waktu yang masih ada, manfaatkan usia yang masih tersisa. Kesehatan, kekuatan akan menurun seiring usia yang terus berkurang. Maka bekali masa tua kita dengan ilmu agama agar iman kita tidak melemah seperti fisik kita. Menua itu pasti namun menjadi lemah itu pilihan.

Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu senggang (HR. Bukhori). Terkadang kita berada dalam kondisi sehat namun tidak memiliki waktu luang karena sibuk dengan urusan dunia. Adakalanya kita memiliki waktu luang namun kita berada dalam kondisi tidak sehat. Apabila kita merasakan kedua nikmat sehat dan waktu luang tersebut bersamaan, namun akan datang segera rasa malas dalam melakukan ketaatan. Itulah manusia yang terpedaya. Agar kita tidak berada dalam kondisi tersebut, ketika kita memiliki kedua nikmat ini bersamaan maka yang seharusnya kita lakukan adalah bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan dengan cara melaksanakan setiap perintah Allah dan menjauhi setiap laranganNya.

Ketika usia dan fisik menjadi alasan untuk tidak belajar Al-Qur’an maka kita perlu sedikit bertanya pada hati. Bukankah Al-Qur’an itu asy-syifa, penyembuh, pemberi kekuatan lahir dan bathin, mengapa kita sangat enggan mempelajarinya? Sungguh ironi ketika banyak dari kita yang kuat hiking, traveling namun tak mampu sekedar duduk beberapa menit mempelajari Al-Qur’an. Atau ketika panggilan adzan tiba, kita tak bergeming sedikitpun. Namun bila panggilan telepon berdering, secepat kilat kita mengangkat. Mengapa kita lebih mementingkan panggilan manusia dibandingkan panggilan Allah? Kita baru akan menyesalinya ketika kita sudah tidak mendengar panggilan manusia atau pun panggilan Allah karena kita sudah dipanggil Allah. Sungguh penyesalan yang tak berkesudahan karena nyawa sudah dikerongkongan sehingga pintu taubat tak terbuka lagi.

Mari berdoa agar Allah melembutkan hati. Karena doa adalah sebuah solusi dari ketidakberdayaan. Bersegeralah dalam kebaikan. Allah selalu memudahkan jalan bagi hambaNya yang ingin berubah ke arah yang lebih baik. Jika kita mendekat maka Allah akan lebih dekat. Kita mendekat dengan berjalan maka Allah akan mendekat dengan berlari (HR. Bukhori dan Muslim). Saatnya bersemangat dalam beramal kebaikan karena Allah. Tak lengah tuk terus menjaga niat tanpa lelah berbenah tuk menjadi baik di awal, tengah dan akhir hidup kita.

Cerita keluarga semut, mereka rajin mengumpulkan makanan, bahu membahu memenuhi lumbung mereka agar tidak kekurangan stok menghadapi musim dingin. Tak ada yang suka berleha-leha. Mereka begitu memperhatikan kesejahteraan hidup. Seperti itu pula sebagian dari kita. Hari-harinya dipenuhi kesibukan demi tercukupi semua kebutuhan hidupnya di dunia. Bagitu khawatir tidak bisa ‘hidup layak’ versi dunia padahal rezeki kita sudah ditentukan dan tidak akan tertukar. Mari kita sibukkan diri bukan sekedar urusan dunia tapi juga persiapan hidup di alam berikutnya. Siapkan stok menghadapi kehidupan yang kekal yaitu sibukkan diri dengan tugas utama kita beribadah kepada Allah. Sebagaimana semut yang tidak berhenti bekerja agar tak sengsara di musim berganti, demikian juga kita semoga tak berhenti saling menasihati dalam kebaikan agar tak sengsara di akhirat nanti.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hasyr : 18). (esa/hal).

RELATED ARTIKEL