Kiat-kiat Menyambut Ramadhan

 

 

KIAT-KIAT MENYAMBUT RAMADHAN

Oleh: Dr. M. Yusuf Siddik, MA

Bulan Ramadhan adalah satu-satunya bulan yang disebutkan namanya dalam Al Qur’an.  Ulama’ sepakat, tidak ada bulan yang lebih mulia dibanding bulan Ramadhan. Untuk itu, sewajarnya kita mempersiapkan diri, agar kita bisa mengoptimalkan ibadah di bulan yang mulia tersebut.

Agar kita dapat mengoptimalkan kemuliaan bulan Ramadhan, ada beberapa persiapan yang sebaiknya kita lakukan:

  1. Belajar dan mengenal ibadah yang disyariatkan di bulan Ramadhan

Ibadah tidak dapat dilakukan kecuali dengan ilmu. Ibadah tanpa ilmu dapat menyebabkan amal ibadah tidak diterima. Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim. Dengan ilmu, kita dapat mengenal kemuliaan Ramadhan serta amal ibadah yang disyariatkan dalam bulan Ramadhan. Menuntut ilmu atau belajar tidak harus melalui bangku sekolah, namun dapat juga dilakukan dengan mendengar ceramah-ceramah terutama terkait tarhib (menyambut) Ramadhan.

Ilmu bisa juga didapatkan dengan membaca buku, namun diharuskan untuk selalu konsultasi dengan guru/ustadz. Karena ilmu dari buku, kadangkala sulit untuk dipahami jika tidak dituntun oleh guru/ustadz. Karena pengarang buku, kadangkala tidak dapat mengungkapkan permasalahan secara utuh karena keterbatasan ruang dan halaman buku.

2. Menyambut Ramadhan dengan Sukacita dan Persiapan yang Baik

Kedatangan bulan Ramadhan bagi seorang muslim adalah kesempatan mendapatkan rahmat dan ampunan. Rasulullah SAW bersabda: “Dari Ramadhan ke Ramadhan adalah mengampuni dosa antara keduanya”.  (HR. Ahmad).  Di saat tiba bulan Ramadhan, sudah seharusnya umat Islam menyambutnya dengan suka cita. Mengingat dosa-dosanya akan diampuni. Namun dosa yang diampuni tersebut adalah dosa-dosa kecil. Sementara dosa-dosa besar harus disertai dengan taubat. Taubat baru dapat diterima jika memenuhi 5 syarat:

  1. Memohon ampun kepada Allah SWT dengan memperbanyak istighfar, dan sebaiknya disertai dengan sholat sunat taubat. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Bakar RA, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada seorang yang melakukan dosa, lalu ia bangun, bersuci dan sholat kemudian meminta ampun (istighfar) kepada Allah SWT melainkan diampuni dosanya”. Lalu beliau membaca ayat di surah Al Imron ayat 135-136 (artinya) “dan orang-orang yang berbuat keji (dosa) atau menzholimi dirinya, lalu mereka ingat kepada Allah dan meminta ampun atas dosa mereka, dan tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Allah, dan tidak mengulangi perbuatan yang telah mereka perbuat dan mereka sementara mereka menyadari dosa mereka. Mereka itu, ganjarannya adalah ampunan dari Tuhan mereka dan syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai kekal di dalamnya”. (HR. Abu Daud, Nasai, Ibnu Majah, Baihaqi dan Turmudzi seraya berkata : ini hadits hasan).

Serta hadits yang diriwayatkan dari Abu Darda’, Rasulullah SAW bersabda : “Siapa yang berwudhu’ dengan sebaik-baiknya wudhu’, lalu ia berdiri dan sholat 2 rakaat atau 4 rakaat, sholat wajib atau tidak wajib, ia laksanakan dengan memperbaiki ruku’ dan sujudnya kemudian dia meminta ampun (istighfar) melainkan ia akan diampuni”. (HR. Thobroni dalam kitabnya Almu’jamul Kabir).

  1. Menyesali atas segala kesalahan yang pernah dilakukan, dengan sebenar-benarnya penyesalan. Berdasarkan ayat diatas (QS. Al Imron ayat 135-136), dimana Allah SWT berfirman: “mereka ingat kepada Allah dan meminta ampun atas dosa mereka, dan tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Allah, dan tidak mengulangi perbuatan yang telah mereka perbuat dan mereka sementara mereka menyadari dosa mereka”. Kata “ingat” dan “menyadari dosa” menunjukkan bahwa taubat tidak sah tanpa penyesalan dan menyadari kesalahan.
  2. Bertekad untuk tidak mengulang kembali. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW: “tidak sah taubat tanpa ada tekad (untuk meninggalkan dosa yang pernah dilakukan)”. (HR. Qurthubi).
  3. Mengganti kesalahan tersebut dengan memperbanyak kebaikan dan ibadah. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW: “dan ikutkan keburukan dengan kebaikan yang akan menghapuskan keburukan tersebut”.
  4. Jika itu terkait dengan hak manusia, maka harus meminta maaf kepada yang bersangkutan. Karena hak manusia tidak dapat dihapuskan kecuali dengan meminta maaf kepada yang bersangkutan.

3. Memperbanyak ibadah sejak sebulan sebelumnya

Mengingat Ramadhan adalah bulan ibadah, maka akan sulit kita mengoptimalkan ibadah di bulan Ramadhan tanpa persiapan dan melatih diri dengan memperbanyak ibadah di bulan-bulan sebelumnya. Kebiasaan melatih diri dengan ibadah sejak sebulan menjelang Ramadhan telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Diriwayatkan dar Aisyah: “bahwa tidak ada bulan yang mana Rasulullah SA lebih banyak berpuasa lebih dari bulan Sya’ban, beliau berpuasa selama bulan Sya’ban”. (HR. Bukhori – Muslim).

4. Mengqodho’ puasa yang tertinggal di Ramadhan sebelumnya*

Sebelum masuk bulan Ramadhan, bagi umat Islam, terutama kaum wanita, hendaknya mengqodho’ puasa yang tertinggal pada Ramadhan sebelumnya. Mengingat wanita, merupakan bagian dari kodratnya, mengalami haidh yang rutin tiap bulan, atau bahkan nifas bagi yang melahirkan, hingga sulit baginya untuk dapat melaksanakan puasa 1 bulan penuh. Untuk itu, sebelum masuk bulan Ramadhan, diharuskan bagi yang pernah tertinggal puasa di bulan Ramadhan sebelumnya agar segera mengqodho’ sebelum tiba bulan Ramadhan berikutnya.

RELATED ARTIKEL