Keseimbangan Dalam Shalat Antara Hubungan Vertikal Dan Horizontal

 

Keseimbangan Dalam Shalat Antara Hubungan Vertikal Dan Horizontal

Oleh: Dr. M. Yusuf Siddik, MA

 

Kita sering memahami, bahwa sholat hanya terkait hubungan manusia dengan Allah saja. Namun sebenarnya, dalam sholat ada yang terkait hubungan dengan Allah dan ada hubungan antara manusia. Bahkan dalam definisi sholat mengandung dua hubungan di atas. Sholat adalah ibadah tertentu berupa perkataan dan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam.

Takbir adalah membesarkan dan mengagungkan Allah, sementara salam adalah mendoakan dan memuliakan orang di sekitar kita. Sholat diawali dengan memperbaiki hubungan kita dan Allah, memberikan hak Allah untuk diagungkan dan dibesarkan, dan ditutup dengan menunaikan hak manusia, dengan menebarkan doa keselamatan untuk mereka dan menyapa mereka dengan kata-kata yang baik.

Sholat memberi makna memperkuat dua hubungan vertikal dan horizontal juga dapat kita lihat pada sholat berjamaah. Tidak hanya kita merendahkan diri kepada Allah, dengan menundukkan kepala dan badan kita di hadapan Sang Pencipta, namun kita juga menanggalkan jabatan kita dengan berdiri sejajar, bahkan terkadang di sebelah kita ada bawahan, staf, supir dan pembantu kita.

Makanya, wajar jika Allah SWT berfirman dalam hadits Qudsi: Aku terima sholat hanya dari orang yang tawadhu’. (HR. Darimi). Karena, memang sholat mendidik kita tawadhu’, baik melalui gerakannya yang menundukkan kepala dan badan, serta posisi makmum yang sejajar, tanpa membedakan status sosial. Tidak seperti sebagian agama, yang memiliki jenjang strata, bahkan saat mereka beribadah dan mendapat pelayanan di tempat ibadahnya, mendapat perlakuan yang berbeda sesuai dengan sumbangan dan kontribusi serta strata sosialnya. Namun dalam Islam, al Quran dan sunnah menghapus keberadaan strata tersebut.

Allah SWT berfirman: Yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertaqwa. Nabi juga bersabda: tidak ada beda antara Arab dan non Arab melainkan dengan taqwa.

Di penghujung bulan Rajab ini, mari kita jadikan sholat sebagai sarana memperbaiki hubungan kita dengan Allah dengan mengagungkan, membesarkan dan meminta kepada-Nya, dan memperbaiki hubungan kita dengan sesama, dengan memupuk sifat tawadhu’ yang menjadi tujuan Allah dari semua gerakan kita dalam sholat yang banyak merendahkan kepala kita dengan ruku’ dan merendahkan badan kita dengan sujud.

Orang yang sholatnya baik dan benar, secara otomatis akan baik hubungannya dengan Allah melalui peningkatan taqwanya, dan akan baik hubungannya dengan sesama, melalui peningkatan akhlaqnya.

Allah SWT berfirman:

(اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ)

[Surat Al-Ankabut 45]

Artinya: Bacakan apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Al Kitab, dan dirikanlah sholat, sesungguhnya sholat mencegah dari perbuatan keji dan munkar, dan menyebut (mengingat) nama Allah adalah yang lebih besar dan utama, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian lakukan. (QS. Al Ankabut : 45)

RELATED ARTIKEL