Jangan Salah Niat

                             Sumber: https://janasoe.wordpress.co

Pernahkah kita berniat sesuatu tetapi justru melakukan hal berbeda? berniat untuk berbuat baik namun dianggap buruk oleh orang sekitar? Mengapa itu bisa terjadi? Sebelum menjawab pertanyaan itu, mari terlebih dahulu kita berintrospeksi diri. Apakah niat kita dibarengi dengan maksud beribadah kepada Allah, tulus tanpa mengharapkan imbalan dari manusia, atau justru karena hal lain di luar itu yang bahkan memicu adanya dosa? Coba kita simak firman Allah dalam Q.S Al Isra ayat 18-19, berikut:

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik”

Kedua ayat tersebut diperjelas oleh hadis Rasulullah dalam riwayat Bukhori dan Muslim, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan RasulNya, maka hijrahnya untuk Allah dan RasulNya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju”

Adapun kandungan dalilnya yaitu, manakala kita melakukan amal, balasannya tergantung niat apa yang Ia tanam dalam dirinya. Apakah ikhlas hanya karena Allah atau tidak. Akan berbeda jika niatnya cenderung untuk mengejar duniawi atau ukhrowi. Menurutmu, apa niat saja sudah cukup untuk awal perbuatan kita? Tidak demikian. Selanjutnya yaitu niat dibarengi dengan takwa dirinya kepada Allah SWT. dalam firmannya Q.S Al Maidah ayat 27 berikut:

“…….. Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa”

Ajaran Islam memperhatikan secara detail setiap garis dan titik kehidupan. Perhatian dalam berniat pun diatur dalam Alquran dan Hadis. Berdasarkan Q.S Al Maidah ayat 27, menuntun kita agar menjadi orang yang bertakwa jika ingin niat dan amalan kita diterimaNya.  Niat baik sudah dicatat, sedangkan pada niat buruk, Allah memberikan kasih sayang berupa menahan untuk tidak tercatatnya niat buruk manusia. Sebagaimana hadis Rasulullah saw. : “Barangsiapa hendak melakukan kebaikan dan dia tidak jadi melakukannya, Allah telah mencatat di sisiNya satu kebaikan yang sempurna. Bila ia hendak melakukan kebaikan dan benar-benar melakukannya, Allah mencatat di sisiNya sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat bahkan berlipat ganda banyaknya. Jika ia hendak melakukan kejelekan dan tidak jadi melakukannya, Allah mencatat di sisiNya sebagai satu kebaikan, dan kalau ia hendak melakukan kejelekan kemudian benar-benar melakukannya, maka Allah hanya mencatat di sisiNya satu kejelekan.”

Betapa besar kasih sayang Allah SWT. Masihkah kita berniat dengan tidak memasukkan nilai ibadah? Tidak ikhlas karena Allah ta’ala? Dengan meniatkan diri pada sesuatu selain Allah, bisa dianggap seseorang telah melakukan syirik.  Misalnya kita berbuat kebaikan namun tidak dianggap dan ada yang bersikap kurang enak, kita merasa bahwa kebaikan itu percuma, ingin dibalas olehnya, dan sebagainya. Hal itu bisa memicu tertolak pahala dari amalan kita. Semoga kita bisa meluruskan niat hanya karena Allah ta’ala. Aamiin ya robbal ‘aalamin. (itm/hal).

RELATED ARTIKEL