Jangan – Jangan Saya Dermawan Pemula

Di WAG ramai info dari teman-teman men-share ajakan bersedekah membantu seseorang yang menderita kesusahan. Deritanya tergambar jelas dari foto dan deskripsi yang menyertai foto tersebut.

Tak sedikit teman yang tersentuh dan menggunakan gadget nya untuk berkontribusi meringankan derita orang tersebut. Belas kasihan berhasil menyentuh nurani teman-teman saya untuk berbagi rezeki membantu sesama yang sedang menderita.

Bersedekah di zaman Modern ini sangat mudah. Para Dermawan dimanjakan dengan berbagai fasilitas kemudahan mendapatkan info tentang calon penerima donasi hingga kemudahan berdonasi. Tak perlu jauh-jauh datang ke lokasi penerima donasi, tak perlu repot menghampiri gerai-gerai zakat, cukup menekan tombol-tombol gadget dalam genggaman dan memasukan password sudah tersalur jumlah donasi yang kita inginkan.

Para Dermawan merasakan bahagia, saat rezeki yang mereka peroleh dengan keringat sendiri secara halal itu dibagikan pada yang membutuhkan. Ada secercah harap didoakan oleh kaum dhuafa, fakir miskin dan anak yatim serta harapan mendapat keberkahan dari Allah dan digantikan dengan balasan yang lebih baik serta ditambahkan rezekinya.

Kita mudah tergerak untuk mendonasikan harta kita saat melihat penderitaan orang lain. Baik itu karena musibah maupun penderitaan karena kelaparan, kemiskinan, terlantar atau korban kedzaliman. Niatnya mulia, membantu meringankan penderitaan.

Para Dermawan pemula umumnya lebih suka menyalurkan donasinya langsung ke penerima manfaat. Alasannya lebih ada kepuasan bathin atau lebih “berasa” katanya. Padahal donasi secara langsung, hanya membantu sesaat, ibaratnya hanya menghilangkan sakit sementara, bukan sumber penyebab sakitnya. Tak ada kelanjutan, tak ada monitoring bagaimana nasib selanjutnya penerima donasi tersebut, apakah masalahnya terselesaikan atau tidak. Tak ada solusi terhadap sumber permasalahannya. Hingga tak jarang melahirkan individu-individu yang menggantungkan hidupnya dari donasi.

Para Dermawan yang lebih berpengalamana biasanya menyalurkan donasinya melalui Lembaga-lembaga Amil Zakat (LAZ). Karena mereka percaya bahwa LAZ akan melakukan langkah-langkah pemberdayaan melalui program-program yang dirancang untuk mengentaskan kemiskinan dan permasalahan-permasalahan kaum dhuafa. Sehingga kaum dhuafa mengalami perbaikan taraf dan kualitas hidup.

Maka, tak sedikit lembaga-lembaga sosial menampilkan foto-foto dan info penderitaan kaum dhuafa atau korban-korban bencana untuk  menggerakan hati para dermawan. Strategi ini efektif agar mereka dapat menghimpun donasi dengan segera. Sehingga mereka pun bisa berperan menyalurkan dana tersebut. Dengan begitu lembaga-lembaga  itu bisa eksis dan berperan lebih besar dalam menangani masalah-masalah sosial.

Padahal, lembaga-lembaga sosial tersebut memiliki program-program jangka panjang yang dapat mengentaskan permasalahan-permasalahan tersebut, bukan sekedar bantuan berupa Charity yang hanya membantu dalam kondisi darurat dan sementara, tanpa menghilangkan sumber permasalahannya. Program-program ini disebut program pemberdayaan, yakni program pendayagunaan dana ziswaf (Zakat infak sedekah dan wakaf) untuk mengentaskan kemiskinan dan ketidakberdayaan kaum dhuafa dan korban bencana menjadi berdaya.

Seorang dermawan sejati umumnya telah teredukasi mengenai program pemberdayaan seiring dengan pengalamannya berdonasi. Lembaga-lembaga sosial umumnya menyajikan laporan terkait proses penyaluran dana donasi tersebut hingga kegiatan monitoring perkembangan pendayagunaan dan dampaknya terhadap penerima donasi.

Dana yang didonasikan melalui program-program lembaga, jauh lebih bermanfaat dan berdampak terhadap pengentasan kemiskinan, perbaikan taraf hidup bahkan mengubah mustahik (orang yg menerima zakat) menjadi muzaki (orang yang berzakat). sangat berbeda jika hanya menjadi bantuan sementara yang manfaatnya tak berdampak pada perbaikan taraf dan kualitas hidup kaum dhuafa.

Saya jadi tersenyum sendiri, setelah sadar saya termasuk dermawan pemula. Yang lebih merespon peluang donasi dari foto-foto penderitaan kaum dhuafa dengan donasi seadanya. Saya jadi teringat para sahabat dan istri Nabi, seperti Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu dan Bunda Aisyah Radhiyallahuanha yang sehari-hari berpenampilan sederhana, namun berwakaf dan bersedekah sampai milyaran rupiah.

Wajar jika saat itu peradaban Islam berkembang dengan cepat. Generasi mereka banyak para Dermawan dengan pemahaman yang baik. Harta mereka didermakan untuk projek-projek besar peradaban yang mengentaskan berbagai permasalahn sosial. Hingga pada zaman Khalifah Umar bin Abdul Azis, zakat sampai harus diekspor ke negeri lain. Bukan karena penduduknya makmur dan kaya raya semuanya, melainkan tak ditemukan orang yang fakir atau yang merasa miskin, mereka semua merasa cukup.

Di masa Covid ini, saya pikir ini merupakan momentum terbaik untuk meningkatkan kualitas donasi saya. Saya akan tetap merespon peluang-peluang donasi kedaruratan atau charity lainnya. Namun saya harus merancang skema baru tata keuangan saya agar bisa berdonasi lebih berkualitas, donasi yang lebih berdayaguna untuk mengentaskan permasalahan sosial di negeri kita.

Tulisan ini saya buat juga sebagai salah satu upaya yang bisa saya lakukan untuk meningkatkan kualitas donasi. Tak melulu berdonasi untuk charity, donasi harus lebih berdayaguna dan berdampak nyata terhadap pengentasan kemiskinan. Upaya mengajak dermawan pemula seperti saya untuk meng-upgrade wawasan & kualitas donasinya.

Jika para dermawan lebih merespon program-program pemberdayaan, LAZ dan lembaga-lembaga sosial lainnya tak akan lagi menyemarakan upaya penghimpunan dengan memampilkan penderitaan kaum dhuafa secara vulgar. Diganti dengan semarak program-program keren seperti Program Pembanguna Desa, Pemberdayaan Petani & Peternak, Program Beasiswa Anak berprestasi dan lain sebagainya. Yang semuanya itu lebih menjadi solusi bagi permasalahan bangsa dan mendorong bangkitnya peradaban di negeri ini.

Wallahu a’lam

-QodratSQ-

 

RELATED ARTIKEL