Cuaca 11 Derajat, Korps MAI di Hong Kong Tak Gentar Lakukan Aksi Kemanusiaan Untuk Selat Sunda

tsunami selat sunda

 

 

MAINews, Hong Kong – Tsunami Selat Sunda memberikan duka mendalam bagi Indonesia. Termasuk para Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di Hong Kong.

Minggu pagi, (30/12/2018), cuaca dingin 11 derajat menyelimuti Hong Kong dan sekitarnya. Fundraiser yang tergabung dalam Korps Mandiri Amal Insani (MAI) Foundation wilayah Hong Kong melakukan aksi dengan menyapa dan mengajak rekan PMI untuk membantu para penyintas di Banten dan Lampung.

Meski dingin, hal itu tidak menjadi tantangan para fundraiser untuk melakukan aksi kemanusiaan tersebut. Bagi mereka, dingin yang dirasakan tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan perasaan duka para penyintas Tsunami Selat Sunda.

“Mengenai musibah yang terjadi di Indonesia, saya tidak bisa berkata-kata lagi. Belum usai di Lombok dan Palu, sekarang ditambah lagi oleh tsunami di Selat Sunda. Kami di sini tak bisa melakukan banyak hal selain mengajak teman PMI untuk menyumbangkan sebagian rezekinya membantu saudara kita yang terkena musibah,” ungkap Ghinda Aprilia, salah satu anggota Korps MAI Foundation wilayah Hong Kong.

Setiap libur, mereka menyebar ke penjuru Hong Kong melakukan aksi. Mereka juga mengajak berbagai organisasi untuk turut serta menyumbangkan rezekinya.

“Kami ingin terus berbuat yang terbaik. Fundraising ini bukan sekedar kegiatan, melainkan sebuah bentuk kepedulian kami dalam membangun negeri,” pungkas Ghinda.

Seperti yang diberitakan, peristiwa tsunami di kawasan Selat Sunda terjadi pada Sabtu, (22/12/2018) malam membawa dampak bagi empat kabupaten yaitu Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, Kabupaten Lampung dan Kabupaten Tanggamus.

Sampai saat ini, Pusat Data Informasi dan BNPB mengatakan ada sebanyak 437 jiwa meninggal dunia. Saat ini 426 sudah dimakamkan, sementara 9 jenazah belum teridentifikasi. Selain itu, 14.059 orang mengalami luka-luka, 16 orang hilang, dan 33.721 mengungsi.

Tidak hanya itu, jumlah bangunan rusak terus mengalami kenaikan. Bangunan tersebut di antaranya 2.752 rumah dan 92 penginapan atau warung. Alat transportasi sebanyak 510 perahu dan kapal, 147 kendaraan, serta dua fasilitas dermaga dan shelter juga mengalami kerusakan.

 

 

RELATED ARTIKEL