fbpx

Cetak Wirausahawan, MAI Foundation Bekali Pelatihan

Cetak Wirausahan, BPZIS Mandiri Bekali PelatihanMandiri kembali memberi modal untuk orang yang ingin jadi wirausahawan. Namun sebelum bantuan itu “cair”, mereka – yang umumnya orang kurang mampu– harus ikut pembekalan pelatihan wirausaha MAI Foundation terlebih dulu.

Cetak wirausahawan agar mandiri

Tujuan pelatihan yang diikuti 31 pasang suami istri ini agar mereka tidak takut lagi memulai wirausaha, menyadari betul kemampuan dan minatnya untuk membangun pondasi berwirausaha. Sehingga saat usaha dibangun, entah apapun itu,  nantinya mudah dijalani dan bertahan lama.

“Dengan para calon wirausahawan dibekali pelatihan, kami berharap mereka tidak minder dan makin percaya saat memulai usahanya. Alhasil jenis usaha yang dijalani untung atau laris, akhirnya bisa membuat mereka mandiri dan sejahtera,” ucap Drs.H.Suyatin, SE, MM, koordinator bidang keuangan MAI Foundation di sela acara pelatihan yang bertema Melalui Wirausaha Kita Tingkatkan Kemandirian Ekonomi Umat Sebagai Wujud Spirit Memakmurkan Negeri, di Ruang Serbaguna Lantai 3, Plaza Mandiri, Jakarta, Minggu (1/2/2015)

Lebih dalam, tambah dia, niat MAI Foundation mencetak wirausahawan semata untuk bisa mengubah orang yang dulunya mustahik (penerima zakat) menjadi muzakki ( pemberi zakat). “Dengan cara apa? Ya kita didik mereka jadi pengusaha yang sukses,” jelas Suyatin.

Hal senada juga disampaikan Iwan Rudiyana dari bidang Resources and Develpoment MAI Foundation . Dia menjelaskan bahwa mencetak wirausahawan bukan sekedar upaya mengentaskan seseorang dalam belenggu kemiskinan. Tetapi agar ia bisa jadi pemberi zakat dan membantu orang banyak yang membutuhkan, persis seperti dulu ia pernah mengalaminya.

“Nanti pada prakteknya kita dampingi mereka. Kami monitoring seminggu sekali untuk mengevaluasi usaha mereka. Mulai dari kelayakan tempat, mengelola modal sampai keuntungan. Untuk apa? Agar faktor keberhasilan usaha mereka jadi banyak, sebelum kami lepas usahanya nanti,” ujar Iwan. “Dan pemberian pelatihan ini juga salah satu faktor penting penunjang keberhasilan, setidaknya nanti mereka memiliki mental pemberani, karakter khas seorang pengusaha .”

Planning Sumber dari Keberanian

Hal ini pula ternyata yang ditekankan Agung Fatwah, motivator wirausaha, saat memaparkan presentasinya. Dia menjelaskan bahwa memiliki mental pemberani mutlak dimiliki calon wirausahawan. Di mana hal itu bisa didapat dengan menerapkan metode “GREAT”.

“Untuk mendapatkan mental pemberani, Anda  bisa memperoleh dengan metode GREAT. Huruf ‘G’ atau Goal, artinya Anda harus memiliki tujuan dalam membuka usaha, entah itu jangka pendek atau panjang. Tuliskan itu dalam lembar perencanaan, apa yang menjadi target setiap tahunnya. Kemudian ‘R’ atau realistis, artinya carilah usaha yang sesuai dengan minat dan kemampuan Anda. Simpelnya, carilah hal yang Anda kuasai, misalkan Anda enak bikin membuat ayam bakar, itu bisa dijadikan ide untuk berwirausaha,” katanya.

Selanjutnya, kata dia,  ialah ‘E’ atau empati. Arti kata ini tujuannya setiap hasil usaha yang Anda lakukan harus bisa membantu orang lain, apakah itu bersedekah atau setidaknya membuang limbah usaha tanpa menggangu orang lain. Setelah itu, huruf ‘A’ atau antusias, yang artinya Anda harus yakin dengan usaha yang sudah lebih pilih.

“Antusias itu berarti kita lebih cepat daripada orang lain, mau terus belajar demi kemajuan usaha, punya semangat untuk terus berusaha meski hasilnya belum sesuai harapan. Dan huruf terakhir dari kata GREAT ialah totalitas. Yang mana artinya, Anda harus total dalam menjalani usaha, tepat dalam catatan perencanaan.

Menurut Agung, jika seseorang sudah merampungkan hal itu, sangat mungkin usaha yang dibangun bisa bertahan dan berkembang. Pasalnya, keberanian dalam berwirausaha lahir ketika si pengusaha sudah punya planning, tujuan usaha yang jelas, dan risiko yang terukur.

Adapun energi itu pula dirasakan para peserta wirausaha, salah satunya Beni Dirmansyah (30) yang berprofesi sebagai pramusaji. Menurutnya, pelatihan ini sangat menginspirasi untuk memulai berwirausaha dan menghilangkan ketakutan.

“Setelah mengikuti pelatihan ini saya jadi bersemangat. Soal mengusir ketakutan memulai itu, saya tahu memang tidak gampang. Tapi kalau kita bisa fokus, pasti insyalloh bisa. Kebetulan saya ingin bisnis rempeyek sama istri dan saya diserang pertanyaan bagaimana kalau dagangan tidak laku?” ucap  Beni.

“Tapi pas dengar penjelasan Mas Agung, ‘Nanti kalau rempeyeknya ada yang hancur sekalipun, jual aja dengan harga miring. Dari situ kamu masih mendapat untung‘, loh kok hati saya tenang. Singkatnya, sekarang saya sudah punya gambaran menjalani usaha rempeyek ini nanti. Sekarang saya sudah siap untuk berwirausaha,”, tutupnya yakin.

RELATED ARTIKEL