Cerita dari Sekolah Mualaf: Memeluk Islam Karena Al Ikhlas

Cerita dari Sekolah Mualaf, sekolah mualaf

Ketika kita memutuskan untuk memilih, maka kitapun harus siap dengan segala resiko yang menyertai. Kita pun perlu perjuangan dalam mempertahankan konsistensi diri agar tidak menyesal di kemudian hari. Salah satunya yang menyangkut tentang agama. Ralat, tepatnya ketika memutuskan untuk beralih akidah dari Non Muslim menjadi Muslim.

Hidayah Allah memeluk siapa saja yang kehendaki. Bahkan seorang Nabi pun tidak akan bisa memberikan hidayah. Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al Qashash: 56)

Dengan kata lain, beruntunglah mereka yang telah mendapatkan hidayah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sekarang, cahaya Ilahi telah melingkupi hidup dari gadis yang mentasbihkan untuk memeluk sepenuhnya agama rahmatan lil ‘alamin ini. Gadis bercahaya itu bernama Natasha Caroline.

Setahun yang lalu, gadis kelahiran Kramat Jati itu merasa kehampaan dan ketidaknyamanan atas agama yang dipeluknya. Ia pun mengaku jarang sekali melakukan ritual peribadatan. Pernah di satu mata kuliah yang ia ikuti, ia mendapat pelajaran tentang kitab-kitab agama yang ada di Indonesia. Oleh gurunya diterangkan kalau semua agama itu sama. Natasha pun beranggapan bahwa agama Islam dengan agama yang dianutnya saat itu juga sama.

Waktu pun merangkak. Ia mendapatkan tugas mengerjakan essay yang dikerjakan secara kelompok. Di satu sore yang syahdu, saat tengah mengerjakan tugas di salah satu rumah temannya yang beragama Islam, suara adzan Magrib berkumandang. Temannya yang beragama Islam melakukan shalat berjamaah. Tinggallah dirinya sendiri, duduk di ruang tamu sambil menatap teman-temannya yang sedang menunaikan ibadah shalat Magrib.

Tiba-tiba Natasha menitikkan airmata. Alunan merdu ayat Al Quran yang dibawakan oleh imam shalat berhasil menyentuh sisi terdalam hatinya. Melihat Natasha menangis, temannya merasa khawatir dan bertanya. Ia lantas bertanya kepada temannya perihal surat yang berhasil menggetarkan hatinya itu.

“Surat Al Ikhas,” jawab temannya yang menjadi imam shalat.

Baca Juga: Sekolah Mualaf MAI Foundation, Ciptakan Perasaan Satu Kisah Perjuangan

Sepulang mengerjakan essay, Natasha men-download aplikasi Al Quran dari Play Store ponselnya. Ia merasakan ketenangan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Yang anehnya, tiap kali terbangun di tengah malam, yang terbesit dalam benaknya adalah surat Al Ikhlas. Ia ingin sekali mendengar surat Al Ikhlas itu. Ia mendengar, lantas membaca artinya, kemudian sesuatu yang tidak pernah terlintas sebelumnya merasuki pikirannya. Ya, gadis itu ingin mencari tahu tentang Islam.

Ia mencari tahu tentang yayasan mualaf melalui internet dan berbagai media informasi lainnya. Ia pun mendapatkan informasi mengenai Mualaf Center Indonesia dan merencanakan pertemuan. Di sana, ia mendapatkan pencerahan mengenai Islam dan tauhid. Ia pun dibekali video untuk ia lihat sewaktu senggang di rumah.

Di satu titik, Natasha pernah merasa bersalah dan ingin mendalami kembali ajaran agamanya. Ia melakukan pengakuan kepada Tuhannya. Tetapi, semakin mempelajari agamanya itu malah semakin menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan akal pikiran dan yang bertentangan dengan nuraninya. Natasha pun tidak melanjutkan pembelajaran dan memilih kembali mempelajari Islam. Akhirnya, ia memutuskan memeluk agama Islam. Setahun yang lalu, sekitar jam 8 malam, dibimbing oleh salah satu ustad dari Mualaf Center Indonesia, dua kalimat syahadat meluncur khidmat dari bibirnya.

Perjuangan pun baru dimulai …

Natasha menyadari, untuk menjelaskan tentang pilihannya pindah agama ke keluarganya itu tidaklah mudah. Ia mendapat kendala mengenai pelaksanaan shalat. Kendati sering melewatkan shalat Subuh dan Isya, beruntung ia mendapatkan  sahabat Muslim yang baik di tempat kerjanya. Ia bisa melakukan shalat dengan nyaman. Mereka juga memberi gadis itu banyak buku bacaan bernuansa Islami.

Subuh pertama di rumah. Natasha kembali menitikkan airmata. Ia kebingungan mengenai arah kiblat. Memakai aplikasi kiblat malah muter-muter. Namun tekadnya mempelajari Islam semakin bulat. Selain ingin memperbaiki shalatnya, ia juga ingin memakai hijab.

Lama kelamaan, gelagat Natasha yang tak biasanya mengundang curiga dari ibunya. Di satu hari, wanita yang telah melahirkan Natasha itu mengajaknya berbicara empat mata. Mau tak mau, kejujuran mengalir. Natasha mengungkapkan kalau dirinya sudah berpindah ajaran agama. Marah, sudah pasti. Kecewa, apalagi. Natasha terima itu semua sebagai satu cobaan dalam menggapai ridho Ilahi.

Kabar Natasha sudah berganti agama merebak di keluarganya. Ayahnya marah besar. Perkataan seperti: ‘aku gak punya anak yang beda agama’ atau ‘udah gak usah dianggap anak’, dan lain-lain sudah menjadi resiko yang gadis itu terima dengan sabar. Saking tidak ingin anaknya beralih ajaran, kedua orangnya pernah membawa orang pintar untuk membujuk gadis itu. Mereka terus mendoktrin dengan berbagai berita yang saat ini banyak menyudutkan agama Islam agar Natasha berpikir ulang.

Tekad adalah tekad. Natasha sudah setahun lebih mentasbihkan diri menjadi Muslim. Kendati masih ada yang beda dari kasih sayang kedua orang tuanya, namun ia masih tetap menunjukkan kekonsistensiannya terhadap apa yang ia pilih.

Ia pun kini menjadi salah satu peserta Sekolah Mualaf yang bekerja sama dengan Mandiri Amal Insani (MAI) Foundation. Setiap Minggu, Natasha beserta teman seperjuangannya belajar tentang Islam. Dari mulai pra tahsin dan tahsin, akidah dan tauhid, fikih ibadah, hafalan surat pendek dan motivasi-motivasi lainnya. (MAI Foundation/Riana)

 

RELATED ARTIKEL