fbpx

Ajak Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta dengan Amil Goes To Campus  

 

 

MAINews, Yogyakarta – “Potensi zakat di Indonesia yang mencapai 218 triliyun belum diimbangi oleh faktor pendukung pengelolaan dana yang baik seperti dalam hal Fundraising,” ungkap Abdul Hadi, Perwakilan Mandiri Amal Insani (MAI) Foundation dalam acara Amil Goes To Campus yang digelar di Universitas Negeri Yogyakarta, Minggu, (13/5/2018). Sejumlah pakar dihadirkan pada acara tersebut seperti Dr. Adi Soeprapto, M.Si. (Wakil Ketua BAZNAS Yogyakarta), Humairoh Anahdi (LAZNAS BSM), Dr. Ayif Fathurrahman, S.E., M.Si (Dosen FEB UNY), Zainal Umuri (Konsultan Pendidikan), dan Krishna Adityangga (CEO & Founder OORTS, Skynosoft Portal Prima)

Fundraising adalah pengumpulan dana, sumber dana, pemberdayaan masyarakayt dan amanah. Hal inilah yang membedakanya dengan marketing.

Kata Hadi, perbedaan marketing dan fundraising adalah, satu, fundraising lebih menjual sebuah program kepada para donatur, bersifat mengugah hati para donatur dan memerlukan ekstra effort daripada sekadar marketing. Dua, manfaat fundraising baru dapat dinikmati dalam jangka panjang.

“Contohnya ketika Mandiri Amal Insani membuat program rumah sakit. Manfaatnya itu bisa dirasakan dalam jangka panjang,” kata Hadi.

Dan ketiga, kata Hadi, kekuatan promosi terletak pada kepercayaan donatur kepada fundraiser. Cara fundraiser mempresentasikan program menjadi satu titik yang membuat donatur percaya.

Abdul Hadi juga membeberkan manfaat menguasai ilmu fundraising, diantaranya adalah: pengumpulan dana lebih optimal, informasi program yang tersumbat dapat diminalisir, mampu menggaet donatur cerdas, program harus bernas karena tuntutan fundraising agar lebih bisa dijual, menguasai misal menguasai sepertiga kemampuan lembaga.

“Terpenting lagi adalah seorang fundraiser harus memiliki kepekaan terhadap donatur. Mendengarkan apa yang diinginkan, berempati lantas memberikan solusi,” pungkas Hadi.

 

RELATED ARTIKEL